Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

'Sudah Ada Tanda-Tanda Hujan di Beberapa Daerah'

Selasa 16 Oct 2018 18:06 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Sawah Desa Serdang Kulon yang kini menjadi milik swasta mengalami kekeringan, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Ahad (26/8).

Sawah Desa Serdang Kulon yang kini menjadi milik swasta mengalami kekeringan, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Ahad (26/8).

Foto: Republika/Yoriesta Afnenda Ramizal
Musim kering tak selalu mengganggu produktivitas padi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih menuturkan, beberapa daerah telah memasuki masa kering akibat musim kemarau. Daerah tersebut adalah Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat dan Lampung. Tapi, produktivitas lahan tersebut tidak terganggu dengan berkurangnya hasil panen kurang dari 30 persen.

Henry optimistis, produktivitas akan kembali menjadi 100 persen mengingat tanda-tanda datang musim hujan yang sudah mulai terlihat di empat provinsi tersebut. "Kalau dalam satu pekan ini sudah gerimis, produktivitas kembali terjamin," tuturnya ketika dihubungi Republika.co.id, Selasa (16/10).

Henry menjelaskan, musim kemarau tidak selamanya menimbulkan dampak negatif. Intensitas sinar matahari yang tinggi justru mampu memutus mata rantai hama tanaman. Tapi, Henry tetap berharap, masa-masa kering dapat segera selesai untuk mencegah dampak kekeringan yang semakin panjang hingga menurunkan produktivitas lahan.

Sebagai antisipasi, Henry menambahkan, asosiasi kini tengah menggalakkan penerapan agroekologi, yakni suatu cara bertani yang mengintegrasikan secara komprehensif aspek lingkungan hingga sosial ekonomi masyarakat pertanian. Dalam implementasinya, petani sebaiknya menghindari konsep monoculture atau hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu areal.

Henry menuturkan, petani telah didorong untuk menanam tanaman hijau dan buah-buahan di antara lahan sawah. Mereka bisa menjadi penyimpan air dan penyangga angin. "Misalnya, tanaman bambu atau tanaman berkayu lain yang dapat menyuburkan tanah. Intinya, satu hamparan terbuka jangan satu jenis tanaman saja," ujarnya.

Selain itu, asosiasi juga mendorong petani untuk menerapkan sistem pertanian yang menghemat air atau dikenal System of Rice Intensification (SRI). Dengan SRI, petani setidaknya mampu menghemat 50 persen air. Upaya ini dapat menjadi antisipasi tepat dalam menghadapi musim kemarau.

Sebelumnya, Pengamat Pertanian Khudori meminta pemerintah dan petani mewaspadai faktor iklim terhadap produksi padi. Sebab, kekeringan yang masih terjadi di beberapa daerah, dikhawatirkan berlanjut karena ada fenomena El Nino. Dengan adanya El Nino, musim hujan yang diperkirakan terjadi pada November, intensitasnya akan rendah.

Khudori menjelaskan, kemarau panjang yang akan diikuti El Nino merupakan situasi yang tidak bersahabat bagi pertanian padi. "Padi itu salah satu tanaman pangan yang membutuhkan banyak air," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES