Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Kementan: Panen Di Musim Kemarau Hasilkan Padi Berkualitas

Rabu 10 Okt 2018 23:09 WIB

Red: EH Ismail

Ilustrasi panen padi di musim kemarau

Ilustrasi panen padi di musim kemarau

Panen di musim kemarau, biaya produksi rendah dan harga gabah bagus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah petani di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur memasuki masa panen padi musim kemarau. Berdasarkan laporan petugas Kementerian Pertanian (Kementan) di lapangan, panen padi sedang berlangsung di Sragen, Ponorogo, Tuban, Magetan dan Ngawi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan (Dirjen TP), Kementan Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, hasil panen padi di musim kemarau menghasilkan gabah yang berkualitas.

"Justru di musim kemarau, serangan hama rendah, foto sintesis maksimum. Terjadi panen gadu dimana produktivitas tinggi, gabahnya berkualitas. Biaya produksi rendah dan harga gabah yang bagus, menjadi berkah untuk petani," kata Sumardjo, Rabu (10/10).

Secara terpisah, Sesditjen Tanaman Pangan Maman Suherman menyatakan, panen di beberapa daerah tersebut adalah hasil kerja keras petani untuk memenuhi kebutuhan pangan. "Apa yang kami ungkapkan adalah berdasarkan laporan dan kenyataan di lapangan. Di musim kemarau, petani kita tetap bekerja untuk memenuhi produksi dan pasokan pangan dengan kualitas dan harga yang baik," ujar Maman.

Maman menambahkan, sekitar 17 ribu hektare lahan padi di Kabupaten Ngawi mulai dipanen, termasuk diantaranya di Kecamatan Karangjati, Padas, Pangkur, Bringin, Kawadungan, Ngawi, Paron dan Kedunggalar. Panen dilakukan dengan menggunakan combine harvester. Hasil rata-rata mrncapai 7,5 ton/ha gabah kering panen (GKP), dengan harga Rp4.700/kg GKP. Wilayah Ngawi juga akan panen komoditas jagung di bulan Oktober mencapai sekitar 2.930 ha.

Sementara itu, di Kabupaten Ponorogo, saat ini sedang panen padi 200 ha dengan harga Rp 4.700/kg GKP dan provitas 6,6 ton/ha. Untuk periode September–Desember, panen di Ponoroho diperkirakan mencapai luas 11.800 hektare. Bahkan di bulan November-Desember mendatang, diperkirakan akan menjadi puncak luasan panen padi.

Panen juga sedang dilakukan di Kabupaten Tuban. Bulan ini, luas panen diperkirakan mencapai 7.699 hektare, dan sampai dengan bulan Desember diperkirakan total panen mencapai seluas 14.767 hektare atau setara produksi 86.080 ton. Tidak hanya padi, di Kabupaten Tuban total luas panen jagung Oktober hingga Desember diperkirakan seluas 11.477 hektare atau setara 61.711 ton.  

"Sementara itu, Kabupaten Magetan tercatat panen Oktober seluas 3.926 hektare, dan dari Oktober sampai dengan bulan Desember diperkirakan akan ada panen seluas 10.496 hektare," tutur Maman.

 

Produksi Beras Aman Menjadikan Harga Stabil

Berdasarkan perhitungan Kementan, prediksi luas panen Oktober hingga Desember 2018 sebesar 2,85 juta hektare. Sehingga diperkirakan akan ada produksi sebesar 15,09 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 8,7 juta ton beras.

"Dengan perkiraan kebutuhan beras dari Oktober hingga Desember yang mencapai sebesar 7,5 juta ton, maka kondisi ini masih cukup aman," tegas Maman.

Menurut Maman, peningkatan produksi padi 2018 terjadi karena Indonesia mampu memanfaatkan kekeringan sebagai peluang untuk meningkatkan luas tanam dan produktivitas. Sumber pertumbuhan luas tanam tersebut diperoleh dari pemanfaatan lahan rawa, lebak dan pasang surut serta pengembangan padi pogo sawah dan gogo rawa.

"Di musim kemarau peningkatan produktivitas tanaman terjadi karena radiasi matahari maksimal, sementara serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dimitigasi sehingga resiko kehilangan hasil bisa diminimalisir," ungkap Maman.

Dengan data dan laporan tersebut, kata Maman,  isu kenaikan harga perlu dipertanyakan keakuratannya. Terkait harga beras, Maman menekankan adanya isu kenaikan harga beras tidak bisa dikaitkan dengan produksi yang rendah, karena faktor rantai pasok lebih berpengaruh atas disparitas harga di petani dan di tingkat konsumen.

Laporan data Petugas Informasi Pasar, saat ini harga rata-rata beras medium Oktober masih lebih rendah daripada harga rata-rata bulanan 2018. Harga rata-rata beras medium sampai dengan 5 Oktober sebesar Rp 9.131/kg. Angka ini masih lebih rendah dibanding harga rata-rata bulanan tahun 2018 sebesar Rp 9.191/kg. Tidak hanya beras medium, catatan harga beras PIBC pada Oktober untuk beras Cianjur Kepala, IR 64 gradeI dan IR 42 masih lebih rendah dibandingkan harga rata-rata bulanan selama 2018.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA