Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Kementan: Jumlah Penduduk Jadi Tantangan Ketahanan Pangan

Kamis 09 August 2018 15:35 WIB

Red: EH Ismail

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi

Peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan jumlah pangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pertanian menargetkan ketahanan pangan dengan mewujudkan sumber daya manusia yang tangguh, sehat, aktif, dan produktif. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi mengatakan,  terkait ketahanan pangan, saat ini BKP tidak hanya fokus pada feeding the world.

"Tetapi juga bagaimana mencapai sasaran akhir pembangunan ketahanan pangan," kata Agung dihadapan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknologi Pertanian pada Seminar Teknologi Pertanian Jabodetabek di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) Serpong-Banten, Kamis (09/08).

Menurut Agung, beberapa tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, salah satunya adalah peningkatan jumlah penduduk  yang diperkirakan mencapai 305 juta jiwa pada 2035. Peningkatan jumlah penduduk selalu diiringi oleh peningkatan jumlah pangan.

"Kebutuhan konsumsi beras kita akan naik 19,6% dan jagung 20%, dan diikuti komoditas lainnya " ujar Agung.

Agung menegaskan, Indonesia memiliki peluang dalam peningkatan produksi, apalagi sumberdaya lahan yang dimiliki Indonesia begitu besar. "Daratan kita lebih dari 190 juta hektar, 23% lahan basah dan 77% sisanya (145 juta) hektar adalah lahan kering. Ini bisa kita optimalisasi dengan sentuhan mekanisasi pertanian," tuturnya.

Agung juga menjelaskan, berbagai  terobosan telah dilakukan Kementerian Pertanian untuk optimalisasi lahan  dan peningkatan produksi, diantaranya: (1) peningkatan alat mesin pertanian >2000%, rehabilitasi irigasi meningkat 500%, lahan untuk benih unggul meningkat > 562%.  Namun ditengah-tengah upaya terobosan, masih menyisakan masalah, yaitu mekanisasi pertani masih terkendala jumlah SDM.

"Lulusan mekanisasi pertanian dari Universitas Gadjah Mada sangat minim. Di BB Mektan ini ada 40 lulusan mekanisasi dari GAMA tetapi ini masih kurang, sementara di ditjen-ditjen lain juga kekurangan," jelas Agung.

 

Agung berharap mekanisasi pertanian kedepan bukan hanya membahas masalah optimalisasi alat, tetapi juga pengembangan teknologinya, sehingga industri Agro kedepan  semakin mendunia.

Selain itu Agung menjelaskan, industri agri saat ini masih didominasi sawit. Namun bio-industri  berbasis biomassa juga sudah kembangkan dengan fokus pada empat komoditas, yaitu Jagung di Gorontalo, Sulteng, NTT. Sagu di Riau, Maluku, Sulsel, Papua dan Papua Barat. Ubi Kayu di Lampung, Jabar dan Jatim, dan Pisang di Sumut, Lampung dan Jateng.

Pada seminar tersebut, Agung mengajak wakil dekan III FTP UGM dan seluruh Alumni Teknologi Pangan UGM  mengembangkan alat-alat mesin pertanian dengan secara mandiri dan mengandalkan generasi muda. "Saya yakin kita mampu melakukan itu bersama," pungkas Agung.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA