Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

DPR: PDB Pertanian Triwulan II Tumbuh Tertinggi 9,93 Persen

Rabu 08 August 2018 13:50 WIB

Red: EH Ismail

Grand Launching Taman Teknologi Pertanian Plus di Gresik, Rabu (7/8)

Grand Launching Taman Teknologi Pertanian Plus di Gresik, Rabu (7/8)

Capaian pembangunan pertanian saat ini karena kerja keras Menteri Pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Data BPS yang dirilis 6 Agustus 2018 menunjukkan kontribusi sektor pertanian dalam menyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada Triwulan II 2018 dibandingkan Triwulan I 2018 sebesar 9,93 persen (q to q). Perlu dicatat, kontribusi sektor pertanian ini merupakan yang tertinggi dibanding sektor lainnya seperti jasa perusahaan yang hanya 3,37 persen dan jasa lainya hanya 3,30 persen.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi menilai pertumbuan ekonomi yang dipacu sektor pertanian sangat signifikan. Ini membuktikan gerakan pertanian Indonesia tumbuh dengan pesat dan pertumbuhan dalam segala varietas di pertanian itu juga menjadi bagian tersendiri bagi dinamika masyarakat.

“Jadi sangat wajar apabila bidang pertanian itu menjadi sektor yang penting dalam rangka untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Viva Yoga dalam Grand Launching Taman Teknologi Pertanian Plus di Gresik, Rabu (7/8).

Hadir dalam acara tersebut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto.

Viva Yoga mengatakan, capaian pembangunan pertanian saat ini karena kerja keras Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang tiada henti-hentinya keliling membangun pertanian dari Sabang sampe Merauke. Pembangunan Taman Teknologi Pertanian Plus Gresik merupakan bukti pemerintah memajukan pertanian. Sebab, teknologi sangat penting meningkatkan produksi dan petani harus paham tentang bagaimana menggunakan teknologi agar produksi dan kesejahteraan meningkat.

“Untuk itu meningkatkan rakyat dan kedaulatan pangan secara nasional, DPR akan mendorong peningkatan anggaran sektor pertanian, minimal 5 persen dari APBN harus masuk ke sektor pertanian. Kalo sekarangkan hanya 1 sampai 1,3 persen. Tidak akan mungkin kemudian sektor pertanian bisa mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa penambahan anggaran,” tegasnya.

Secara terpisah, anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono mengungkapkan tidak kaget dengan terus terjadinya tren peningkatan kontribusi sektor pertanian pada PDB Triwulan II 2018 ini naik menjadi 9,93 persen. Bahkan dia menilai sektor ini pula yang menjadi salah satu faktor pendorong sehingga laju pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II ini naik menjadi 5,27 persen dari periode I sebesar 5,06 persen.

“Selama ini fokus kita ini memang adalah peningkatan produksi dan tentunya sudah ada beberapa keberhasilan yang sudah kita lihat. Bahwa produk pangan bisa kita tingkatkan produksinya seperti jagung, beras, dan sejumlah produk hortikultura itu menjadi sebuah keberhasilan yang patut kita apresiasi sehingga peningkatan produksi ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan PDB itu,” ujar Ono.

Sementara itu, Menteri Amran menjelaskan komoditas yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi yakni jagung, telur ayam, bawang merah, domba dan komoditas sayura-sayuran serta buah-buahan. Dulu jagung, bawang merah dan telur diimpor, tetapi kini sudah diekspor ke berbagai negara.

“Pada 2018 Indonesia sudah ekspor jagung 100.000 ton lebih ke Filipina, berasal dari Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Provinsi NTB pun ekspor jagung 300.000 ton ke Filipina. Telur pun sudah ekspor ke Jepang, ini sejarah baru bagi kita,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika sektor pertanian tumbuh dengan baik, kesejahteraan dan perekonomian nasional meningkat.

Direktur Jenderal Hortikultura menambahkan membaiknya kinerja sektor pertanian terhadap pertumbuhan PDB ini memang sejalan dengan implementasi program Kementan di lapangan. Di sub sektor hortikultura sendiri, sangat fokus meningkatkan produksi hingga ekspor berbagai jenis sayur-sayuran seperti bawang merah, buncis, dan berbagai sayuran lainya. Bawang putih pun tengah didorong produksinya dan ditargetkan tidak ada impor.

“Begitu pun dengan komoditas buah-buahan tengah digenjot produksi dan volume ekspornya. Misalnya, durian, manggis, salak, jeruk dan berbagai jenis buah lainya. Bibit jeruk baru-baru ini dibagikan 1 juta pohon agar produksi naik dan tidak lagi impor bahkan ekspor,” tuturnya.

Untuk komoditas bawang merah, lanjut Suwandi, Pertumbuhan ekspor bawang merah sejak 2014 hingga 2018 mengalami peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 Indonesia masih mengimpor bawang merah sebesar 74.903 ton. Pada 2015 total impor sebesar 17.429 ton, tetapi pada 2016 tidak ada impor bawang merah, bahkan mampu mengekspor 735 ton serta pada 2017 Indonesia telah berhasil ekspor 7.750 ton bawang merah naik 93,5 persen.

“Pada 1 Agustus 2018, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melepas ekspor sebanyak 5.600 ton ke Thailand dan diprediksi ekspor tahun 2018 sebesar 15.000 ton,” ungkapnya.

Kemudian, untuk program bantuan bibit jeruk berikut pupuk secara gratis sebanyak 1 juta pohon bertujuan agar dalam waktu 2,5 hingga 3 tahun lagi sudah berproduksi hingga diekspor sehingga meningkatkan pendapatan petani.

“Meningkatkan volume ekspor tentu berdampak positif terhadap pertumbuhan PDB. Ke depan semua komoditas pangan ditargetkan produksinya naik, bahkan volume ekspornya pun naik,” ucap Suwandi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA