Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

SKK Migas Prioritaskan Potensi Cadangan Migas Laut Dalam

Rabu 20 Feb 2019 02:00 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi kilang minyak

Ilustrasi kilang minyak

Foto: AP
Indonesia belum ada lagi penemuan cadangan yang cukup signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala SKK Migas, Dwi Sucipto mengatakan saat ini SKK Migas memprioritaskan menjalankan eksplorasi khususnya di laut dalam untuk lapangan migas lepas pantai. Ia menjelaskan langkah ini sejalan dengan imbauan presiden tentang masih banyaknya potensi migas di lepas pantai.

"Bahwa offshore itu lebih serius yang dalam deep water dan selo water. Kalau Masela segera bisa selesai, saya bisa jadi driver buat yang lain," ujar Dwi di Indogas Summit, JCC, Selasa (19/2).

Hal ini menurut Dwi sudah dimulai. Apalagi dengan penemuan cadangan gas baru yang baru saja ditemukan oleh Repsol di Blok Sakakemang. Dwi menjelaskan apabila potensi potensi ini terbukti mempunyai cadangan yang baik, maka menjadi angin segar masa depan potensi cadangan migas Indonesia.

Direktur Utama PT. Pertamina EP, Nanang Abdul Manan menjelaskan penemuan cadangan besar atau kerap disebut sebagai giant discovery memang menjadi impian semua orang, tak hanya pemerintah tetapi juga pengusaha migas. Ia mengatakan Indonesia sendiri hingga saat ini belum ada lagi penemuan cadangan yang cukup signifikan.

"Sejak terakhir Banyu Urip kita belum ada lagi penemuan signifikan. Gas discovery ini juga masih sedikit," ujar Nanang di Soehanna Hall, Selasa (19/2).

Nanang menilai memulai dari awal adalah menyamakan persepsi para geologis di Indonesia tentang potensi cadangan dan persoalan data. "Harus ada konsep yang solid. Lalu pembuktiannya dengan akusisi data. Selagi kita nggak punya arah kesana, ya jangan berharap akan ada nih discovery. Itu harus ada journey dan milestonenya. Satu sumur eksplorasi kan 50-100 juta dolar," ujar Nanang.

Senada dengan Nanang, Ketua Ikatan Alumni Geologi (IAG), Syamsu Alam menilai menemukan cadangan baru sangat erat kaitannya dengan ketersediaan data. Selain persoalan data harus ada konsep pasti yang disepakati bersama tentang apakah penemuan cadangan baru memang harus melakukan pengeboran dalam dan bergerak ke arah timur Indonesia.

Baca Juga

Sebelumnya, dalam debat Capres akhir pekan lalu, Presiden Joko Widodo menyoroti sektor hulu migas nasional. Ia menyatakan bahwa banyak sekali ladang minyak di lepas pantai yang belum tereksplorasi dengan baik di kawasan perairan nasional.

"Kita dorong agar ladang-ladang minyak memberi manfaat dan pendapatan yang banyak kepada negara," kata Jokowi dalam Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Jakarta, Ahad (17/2).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA