Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Tekan Defisit Perdagangan, JK: Kurangi Impor Sektor Energi

Selasa 22 Jan 2019 21:21 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Muhammad Hafil

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Indonedia Millenial Summit 2019 di Ballroom Hotel Kempinski, Sabtu (19/1).

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Indonedia Millenial Summit 2019 di Ballroom Hotel Kempinski, Sabtu (19/1).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Pemerintah berupaya meningkatkan ekspor dan memperluas hubungan dagang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengungkap langkah Pemerintah dalam upaya menekan defisit neraca perdagangan yang buruk selama 2018. Menurut JK, upaya yang dilakukan antara lain menurunkan impor dari sektor energi.

"Dari segi impor kita mengurangi impor energi. Dengan cara ya minyak sawitlah campur, kemudian juga semua mendirikan kilang. Ini dalam waktu tahun ini kira-kira tiga kilang minyak akan mulai dibangun," ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (22/1).

Sementara, dari sisi ekspor, lanjut JK, Pemerintah berupaya meningkatkan ekspor dan memperluas hubungan dagang dengan banyak negara. Hal ini untuk memperluas pasar dagang Indonesia.

"Karena itu kita perbanyak perdagangan bebas dengan banyak negara-negara Australia, Amerika, eEropa dan sebagainya, memperluas pasar," kata JK.

Diketahui neraca dagang Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit sebesar 8,57 miliar dolar AS. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), defisit tersebut adalah yang terbesar sejak 1975.

"1975 terjadi defisit 391 juta dolar AS. Memang ini (defisit 2018) besar," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Selasa (15/1).

Sejak 1975, Indonesia baru kembali mengalami defisit perdagangan pada 2012 yakni sebesar 1,7 miliar dolar AS. Kemudian, defisit kembali terjadi pada 2013 sebesar 4,08 miliar dolar AS dan pada 2014 sebesar 2,2 miliar dolar AS.

Defisit neraca dagang pada 2018 disebabkan defisit migas sebesar 12,4 miliar dolar AS. Angka itu tidak mampu mengkompensasi surplus nonmigas yang hanya sebesar 3,8 miliar dolar AS. Defisit perdagangan melorot jauh dibandingkan 2017 yang justru surplus 11,84 miliar dolar AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA