Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Investor Cina Teken Kontrak Migas dengan Pemerintah RI

Kamis 20 Dec 2018 19:13 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Ladang migas

Ladang migas

Foto: Yudhi Mahatma/Antara
Kontrak migas yang ditandatangani menggunakan skema gross split

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan asal negeri tirai Bambu, Jindi Ltd, memenangkan hak pengoperasian Blok South Jambi B. Pada hari ini, Kamis (20/12), Jindi melakukan penandatanganan kontrak gross split Blok South Jambi B dengan Pemerintah Indonesia.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengatakan dengan penandatanganan gross split ini maka semakin bertambah pengelolaan Blok Migas yang memakai skema gross split. Arcandra mengatakan, South Jambi B merupakan blok ke 32 yang memakai skema gross split.

Arcandra berharap dengan penandatanganan ini maka blok ini bisa menambah produksi migas nasional. Blok ini memiliki cadangan minyak sebesar 0,6 juta barel ini sedangkan gas yang terbagi atas tiga bagian cekungan memiliki cadangan P1 sekitar 270 TCF, P2 429 TCF dan P3 823 TCF.

"Kami berharap apa yang dijanjikan dalam proposal itu bisa terlaksana dengan harapan kita semua. Dengan KKP gak bisa dipenuhi maka uang tersebut akan disetorkan kepada pemerintah. Itu uang yang sudah milik pemerintah tapi digunakan untuk kegiatan eksplorasi. Baik di SJB atau di Open Area," ujar Arcandra di ESDM, Kamis (20/12).

General Manager Jindi Grup, Song Zhizong mengatakan Jindi sendiri tertarik untuk mengoperasikan Blok ini karena sudah memiliki infrastruktur yang cukup mapan. Meski kata Song pihaknya akan melakukan eksplorasi lebih untuk menemukan potensi cadangan minyak di wilayah utara dari bagian Blok ini.

"Ini cukup menarik bagi kami. Selain karena sudah ada fasilitas yang bisa dikembangkan. Ada potensi minyak yang berpotensi untuk dikembangkan lebih baik kedepan," ujar Song di lokasi yang sama.

Song juga mengatakan akan menyerahkan POD atau rencana pengembangan Blok ini pada pertengahan 2019 mendatang. Saat ini pihaknya akan memulai data seismik dan GnG untuk bisa memastikan wilayah yang berpotensi.

"Pertengahan tahun depan sudah bisa kami serahkan POD nya," ujar Song.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA