Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

PLN Kembangkan Pembangkit Berbahan Bakar Nabati

Selasa 23 Oct 2018 15:00 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif seperti klobot jagung, sekam padi, ilalang, tebu dan jerami.

Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif seperti klobot jagung, sekam padi, ilalang, tebu dan jerami.

Foto: Antara/Syaiful Arif
PLN juga masih menunggu proyek PLTD Nabati yang ada di Belitung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar nabati. Direktur Perencanaan PLN, Syofvie Rukman menjelaskan kedepan PLN berharap proyek PLTD Nabati ini bisa mengurangi angka ketergantungan PLN terhadap solar.

PLTD Nabati yang dimaksud adalah PLTD yang memakai murni CPO sebagai bahan bakarnya. Jika saat ini PLN memakai PLTD yang dimiliki dengan B.20, yaitu solar dengan kandungan turunan CPO, FAME sebesar 20 persen. Kedepan, kata Syofvie bukan tidak mungkin pengembangan PLTD dengan murni 100 persen memakai CPO.

"Ya kita liat ya, Ini sedang kita pelajari betul. Kita pelajari, apa mungkin nggak mengganti itu, atau mungkin nggak kita mengubah itu 100 persen," ujar Syofvie di Kantor Pusat PLN, Selasa (23/10).

Syofvie mengatakan saat ini PLN juga masih menunggu proyek PLTD Nabati yang ada di Belitung. Proyek yang dikembangkan oleh Kementerian ESDM ini nantinya menjadi proyek pertama PLTD Nabati. Dari sana, kata Syofvie PLN akan melihat detail seperti apa tantangan dan kebutuhan dari PLTD Nabati ini.

"Belitung itu kan lagi dibangun sama ESDM. Akhir tahun ini kan kayaknya jadi. Jadi nanti detailnya setelah itu," ujar Syofvie.

Hal ini penting kata Syofvie sebab seperti layaknya PLTU yang berbasis batubara, dalam spesifikasinya setiap PLTU membutuhkan spesifikasi jenis batubara yang berbeda. Syofvie menjelaskan, di PLTD Nabati kedepan juga perlu diketahui detail jenis CPO yang seperti apa yang bisa digunakan.

"Kita juga harus lebih tahu kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin," ujar Syofvie.

Apalagi kata Syofvie hal ini juga berkaitan dengan investasi kedepan. Ketika PLN mengetahui spesifikasi CPO yang seperti apa yang digunakan maka akan menentukan langkah PLN apakah akan memakai PLTD yang existing namun diubah, atau beli alat baru yang sesuai dengan jenis CPO nya.

Namun, serangkaian penelitian ini kata Syofvie sangat berpotensi untuk dikembangkan. Selain bisa menekan angka ketergantungan terhadap solar, PLN yakin untuk bisa mengembangkan PLTD Nabati ini karena prosesnya yang simple dan efisien.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA