Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Harga Minyak Terus Meningkat Seiring Berkurangnya Persediaan

Kamis 30 Aug 2018 07:40 WIB

Red: Friska Yolanda

Kilang minyak

Kilang minyak

Foto: Republika.co.id
Ekspor minyk mentah Iran jatuh lebih cepat daripada yang diperkirakan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Rabu (29/8) waktu setempat. Harga minnyak Brent mencapai tertinggi dalam tujuh pekan dan minyak mentah AS menyentuh tertinggu tiga pekan.

Kedua kontrak minyak mentah meningkat setelah stok minyak mentah dan bensin AS berkurang. Tak hanya itu, kontrak meningkat setelah ekspor minyak mentah Iran turun karena sanksi-sanksi AS menghalangi para pembeli.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober bertambah 1,19 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi menetap pada 77,14 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global sempat menyentuh 77,41 dolar AS, tertinggi sejak 11 Juli.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik 98 sen AS atau 1,4 persen, menjadi ditutup di 69,51 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Harga tersebut stabil setelah menyentuh 69,75 dolar AS, tertinggi sejak 7 Agustus.

Badan Informasi Energi (EIA) mengatakan,  persediaan minyak mentah AS turun 2,6 juta barel pekan lalu. Jumlah ini melebihi perkiraan penarikan 686 ribu barel oleh para analis yang disurvei oleh Reuters.

"Minyak mentah mendapat dukungan tambahan hari ini dari penurunan persediaan di seluruh papan," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates. Menurunnya ekspor Iran dan berkurangnya ekspor dari Venezuela karena kerusakan terminal, juga memberikan dukungan terhadap harga, katanya.

Harga minyak didukung oleh indikasi bahwa ekspor minyak mentah Iran jatuh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, kata para analis. Ekspor minyak mentah dan kondensat Iran pada Agustus diperkirakan turun di bawah 70 juta barel untuk pertama kalinya sejak April 2017.

Banyak pembeli minyak mentah telah mengurangi pesanan dari Iran, produsen terbesar ketiga OPEC, menjelang tanggal dimulainya sanksi-sanksi AS pada 4 November. Organisasi pemasaran minyak Irak, State Oil Marketing Organisation (SOMO) pada Rabu (29/8) mengatakan sanksi-sanksi akan mendorong kekurangan minyak mentah, dan OPEC akan membahas kompensasi untuk penurunan pasokan.

Meskipun ada risiko gangguan dari produsen-prpdusen OPEC tersebut, Bank of America Merrill Lynch mengatakan pasokan global bisa naik menjelang akhir tahun. Hal ini salah satunya karena peningkatan produksi non-OPEC dari Kanada, Amerika Serikat dan Brasil.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA