Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Tarif Listrik Diyakini akan Lebih Murah, Ini Penjelasannya

Rabu 18 Jul 2018 19:25 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Teguh Firmansyah

Sebuah tugboat dan kapal penumpang melintas dengan latar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau di Kecamatan Tawaili, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/6).

Sebuah tugboat dan kapal penumpang melintas dengan latar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau di Kecamatan Tawaili, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/6).

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Energi baru terbarukan diyakini akan bisa bersaing kompetitif pada 2040.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah harga bahan baku pembangkit energi terbarukan yang mahal, pihak swasta menilai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih akan relevan digunakan hingga 2040. Faktor jaminan ketersediaan bahan baku energi baru terbarukan (EBT) tidak merata di seluruh daerah.

Presiden Direktur Cirebon Power Heru Dewanto mengatakan, teknologi PLTU akan lebih canggih, beberapa tahun ke depan. Hal itu dapat menimbulkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan saat ini.

“Dalam beberapa tahun ke depan, akan lebih banyak penggunaan PLTU ultra super critical, bahkan advance ultra supercritical. Pressure-nya lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan efisiensi. Ke depan, harga listrik bisa lebih murah,” kata Heru, Rabu (18/7).

Dengan semakin efisien, maka harga jual listrik bisa lebih murah. Sehingga harga listrik di tingkat konsumsi masyarakat juga lebih murah. Selain itu, ini juga sejalan dengan program pemerintah yang tidak ingin membebani APBN karena menambah subsidi listrik.

Pemerintah ataupun masyarakat tidak perlu khawatir dengan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh PLTU. Semakin canggih PLTU, maka polusi yang dihasilkan juga semakin murah. “Memang investasinya lebih mahal. Tapi bisa menghasilkan lebih sedikit emisi. Ke depannya, harga listrik bisa lebih murah,” katanya.

Baca juga, IEA Pertanyakan Kepastikan Investasi di Sektor EBT Indonesia.

Di sisi lain, pembangkit batubara juga menghadapi tantangan secara pembiayaan karena semakin sedikit perbankan yang bersedia membiayai pembangkit berbahan baku batubara. Karena itu, peralihan teknologi dan inovasi pembangkit adalah sebuah keharusan.

“Memang sekarang pendanaan pembangkit batubara semakin sulit, hanya tinggal Jepang, Korea dan China yang mau memberikan pembiayaan, itupun dengan syarat menggunakan teknologi batubara bersih” ujar Heru.

Menurut Heru, situasi iklim industri ketenagalistrikan beberapa tahun ke depan juga akan semakin kompetitif. Tetapi pada 2040, investasi renewable energy juga akan lebih murah. Pada tahun itu, harga listrik energi baru terbarukan akan sama dengan harga jual listrik PLTU. “Pada 2040, kita semua akan beralih ke penggunaan renewable. Itu menurut study Bloomberg,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA