Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Tingginya Harga Batu Bara Pengaruhi Tarif Dasar Listrik

Jumat 23 Jun 2017 07:23 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Budi Raharjo

Kenaikan tarif listrik (ilustrasi)

Kenaikan tarif listrik (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir menuturkan tingginya subsidi listrik yang diberikan pada masyarakat bukan hanya karena jumlah warga miskin masih tinggi. Tingginya harga batu bara yang menjadi bahan bakar penunjang pembangkit listrik sangat berpengaruh pada tarif dasar listrik.

"Batu bara kita harganya tinggi, itu juga pengaruh," kata Sofyan di Istana Negara, Kamis (22/6).

Sofyan menuturkan, sejauh ini pemerintah belum bisa mengendalikan harga batu bara‎ karena sekitar 80 persen produksinya dilakukan oleh swasta. Batu bara ini pun lebih banyak diekspor ketimbang dimanfaatkan di dalam negeri, seperti memproduksi listrik.

Berbeda dengan negara lain seperti India dan Cina, di mana pemerintah mayoritas menguasai produksi batu bara. Hal tersebut membuat produksi listrik bisa lebih mudah dan murah. "Ini yang tadi saya sampaikan juga ke Presiden," ujar Sofyan.

Sofyan menuturkan dalam presentasi ke Presiden, dirinya juga menyampaikan bahwa pembangunan pembangkit listrik dalam proyek 35 ribu megawatt berjalan dengan lancar. Banyak proyek di daerah yang sudah dijalnkan dan masuk dalam pengerjaan lapangan serta pengerjaan untuk mesinnya.

Terkait dengan penambahan 2,4 juta rumah tangga penerima subsidi, Sofyan menegaskan bahwa angka tersebut masih akan dihitung dan dipastikan kembali oleh tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan (TNP2K).

Sebab, dari 2,4 juta rumah tangga tersebut diprediksi terdapat rumah tangga yang seharusnya tidak mendapatkan subsidi listrik. Jika memang tidak layak, maka rumah tangga tersebut akan dikeluarkan dari daftar calon penerima subsidi.

Menurut Sofyan, dengan penambahan 2,4 juta rumah tangga penerima subsidi maka akan ada tambahan subsidi sebesar Rp 1,7 triliun. Angka ini sangat besar jika harus dikeluarkan pemerintah. "Lebih baik anggaran sebesar ini bisa disubsidi silang untuk membantu masyarakat dalam pengadaan listrik seperti di desa atau pedalaman," ujarnya.


sumber : Center
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA