Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Pertumbuhan Ekonomi 2017 Diperkirakan 5,2 Persen

Senin 08 May 2017 20:19 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: M.Iqbal

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 sebesar 5,01 persen //year on year// (yoy) membaik sesuai ekspektasi. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 akan membaik dibandingkan akhir 2016.

Analis Riset Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, meskipun pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraannya yang sebesar 4,97 persen YoY, namun nilai tersebut lebih rendah dibanding konsensus yang sebesar 5,1 persen YoY. Ekspor dan investasi masih menjadi motor utama percepatan tetapi kali ini, perbaikan belanja pemerintah menambah dorongan.

"Ke depan, dengan intensitas realisasi belanja APBN yang semakin tinggi, pertumbuhan diperkirakan terus membaik. Pertumbuhan PDB di 2017 masih diprediksi membaik ke 5,2 persen YoY," ujar Rangga di Jakarta, Senin (8/5).

Pertumbuhan ekspor membaik lagi di kuartal I 2017 hingga tumbuh 8 persen YoY, sejalan dengan perbaikan permintaan global terutama terhadap komoditas. Menurut Rangga, nilai tersebut merupakan level tercepat semenjak pertengahan 2011.

Pertumbuhan ekonomi rekan dagang utama Indonesia juga membaik di kuartal I 2017. Namun, ekspor masih terhambat larangan ekspor mineral Freeport yang juga ditandai dengan kontraksi perekonomian Papua di kuartal I 2017.

Menurut Rangga, kesepakatan Freeport dan pemerintah yang tercapai bisa mendorong pertumbuhan ekspor yang lebih cepat di kuartal mendatang. "Investasi juga masih terpicu permintaan alat berat yang terkait ekstraksi SDA seiring dengan kenaikan harga komoditas,"kata Rangga.

Di sisi lain, belanja pemerintah mulai pulih setelah sengaja ditekan untuk mengimbangi realisasi pendapatan yang minim pada semester II 2016. Realisasi pendapatan yang membaik di 2017, lanjut Rangga, juga akibat perbaikan harga komoditas.

Hal tersebut akan mengurangi halangan bagi belanja pemerintah yang lebih agresif. "Namun ke depan, jika harga komoditas terus naik, pemerintah harus konsisten menyesuaikan harga barang jasa yang diatur untuk mengurangi beban subsidi," tutur Rangga.

Pertumbuhan yang semakin cepat menandakan level PDB yang terus mendekati potensinya walaupun saat ini baru di fase awal. Hal ini menandakan, daya beli yang membaik sehingga daya tawar produsen untuk menaikkan harga akan meningkat.

Harga komoditas yang naik juga akan memberikan tekanan naik pada tingkat harga domestik. "Sehingga, ini juga berarti siklus pelonggaran moneter akan segera berakhir," ujar Rangga.

Sementara itu, dia memproyeksikan BI Reverse Repo Rate sepanjang tahun ini berada di level 4,75 persen dan akan mulai dinaikkan tahun depan hingga di kisaran 5,25 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA