Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Pacu Pengembangan Industri Tekstil, API Gelar Pameran Internasional

Selasa 18 Apr 2017 17:27 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)

Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)

Foto: KBRI Roma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan sektor strategis yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Industri yang termasuk dalam sektor padat karya berorientasi ekspor ini tengah diprioritaskan pengembangannya agar semakin berkinerja positif dan berdaya saing global.

Untuk mendorong pertumbuhan industri TPT nasional, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat akan menggelar pameran Indo Intertex 2017 di JIExpo pada 19-21 April 2017. Pameran bertaraf internasional yang menampilkan sektor hulu hingga hilir TPT ini akan diikuti oleh 450 peserta dari 24 negara serta dihadiri oleh 10 ribu peserta.

“Mengambil tema Productivity for Sustainability, pameran ini diharapkan dapat berperan dalam mendorong kemajuan industri TPT nasional, khususnya dalam rangka penguasaan pasar domestik dan meningkatkan daya saing serta ekspor," ungkap Ade dalam rilisnya, Selasa (18/4).

Menurut Ade, ekspor industri TPT nasional ke Eropa saat ini masih stagnan, bahkan cenderung mengalami penurunan. Oleh sebab itu perlu langkah strategis untuk untuk mendorong kembali pertumbuhan industri TPT dalam negeri.

Pameran yang akan diselenggarakan API tersebut juga mendapatkan respon baik dari Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono. “Ya, itu bagus. Karena perkembangan teknologi di bidang pertekstilan sangat pesat. Jadi harus bisa bersaing untuk memajukan industri TPT nasional," kata Sigit.

Sigit juga mengungkapkan, posisi permesinan tekstil di Indonesia sudah banyak yang obsolete. Rata-rata usianya sudah 20 tahun ke atas. "Oleh sebab itu kita juga perlu memperhatikan alat dan permesinan tekstil yang bisa mempengaruhi hasil produksi pertekstilan," jelasnya.

Sigit juga menyinggung soal kerja sama dengan Amerika Serikat. Pasalnya, Indonesia masih sangat tergantung dengan AS karena ekspor terbesar industri TPT dalam negeri masih ditujukan ke negeri Paman Sam tersebut. “Industri pertenunan kita juga 70 persen masih tergantung dari kapas AS," imbuhnya.

Pada tahun 2017 ini, Sigit memproyeksikan ekspor tekstil Indonesia bisa tumbuh sebesar 7 persen, atau sekitar 5-6 milyar dolar AS. Oleh sebab itu, para pengusaha tekstil dan produk tekstil diharapkan mampu menciptakan inovasi baru dan mampu berdaya saing.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA