Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tahun Depan Ekonomi Domestik Diprediksi Tumbuh Stagnan 5,04 Persen

Kamis 01 Dec 2016 03:12 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo

Pekerja sedang menyelesaikan proyek infrastruktur dikawasan Kuningan,Jakarta, Selasa (7/7).

Pekerja sedang menyelesaikan proyek infrastruktur dikawasan Kuningan,Jakarta, Selasa (7/7).

Foto: Republika/ Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian hingga tahun depan berdampak pada ekonomi domestik. Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata menjelaskan, kondisi ekonomi domestik 2017 akan tumbuh di kisaran yang sama dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini yakni di kisaran 5,04 persen.

Beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi yaitu asumsi konservatif adanya kebijakan tax amnesty, konsolidasi fiskal yang membuat APBN lebih kredibel, serta proyek infrastruktur yang sudah mulai terlihat dampak awalnya.

"Pemerintah juga harus menjaga daya beli. Jangan sampai konsumsi rumah tangga drop atau pertumbuhan ekonomi sulit mencapai 5 persen. Karena kita masih bisa tumbuh positif dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga," ujar Anton di Jakarta, Rabu (30/11).

Selain itu, transmisi kebijakan moneter mulai membaik pada kuartal III 2017. Saat ini BI sudah menurunkan suku bunga kebijakan sebanyak 6 kali, namun suku bunga kredit masih belum turun banyak dan pertumbuhan kredit masih lambat.

"NPL bank masih akan mewarnai di 2017 tapi second half mulai membaik. BI 7 day repo rate akan tetap, tapi kalau tekanan rupiah tinggi mungkin akan naik sekali," ujar Anton.

Sementara itu pertumbuhan kredit ia perkirakan akan tumbuh di kisaran 9,33 persen dari proyeksi akhir tahun ini di kisaran 8,56 persen. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) akan tumbuh 9,15 persen dari proyeksi akhir tahun ini di kisaran 8,38 persen.

Adanya belanja pemerintah daerah dalam pelaksanaan Pilkada juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Kendati begitu, rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik serta harga LPG akan mempengaruhi inflasi dari komponen administered prices (harga yang diatur pemerintah). Sehingga inflasi tahun depan diperkirakan lebih tinggi yakni 4,19 persen dibandingkan proyeksi akhir tahun ini di kisaran 3,2 persen.

Dari sisi ekonomi global, ada ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi AS yang diperkirakan tumbuh sementara negara-negara maju lainnya tumbuh stagnan. Ditambah lagi dengan rencana AS yang akan menaikkan suku bunga kebijakan bank sentral AS Fed Fund Rate, sedangkan suku bunga kebijakan negara lainnya diturunkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA