Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Karakter Unik Pasar Asia Dongkrak Industri FMCG

Jumat 20 Nov 2015 09:54 WIB

Red: Indah Wulandari

Produk FGMC

Produk FGMC

Foto: theguardian

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Karakter pasar  Asia yang unik membuat pertumbuhan industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menonjol di tengah perlambatan perekonomian.

“Asia merupakan market yang unik, karena para pemain lokal yang mendominasi lebih banyak dibandingkan dengan para pemain global,” ujar General Manager Kantar Worldpanel Indonesia Lim Soon Lee, Jumat (20/11).

Fakta tersebut sesuai dengan hasil riset Kantar Worldpanel untuk pasar Asia. Secara keseluruhan, para pemain lokal Asia berkontribusi sebesar 74%, dan mereka tumbuh dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan para pemain multinasional.

Lee mencontohkan,  para pemain lokal Indonesia dan Cina masih menunjukkan tingkat kontribusi lebih dari 60%. Angka ini merupakan pertumbuhan dua kali lipat dibandingkan dengan para pemain global.

Tak mengherankan jika industri FMCG di Asia masih sangat menjanjikan meski  dalam satu tahun terakhir, pertumbuhan FMCG di Asia menurun.

Hasil riset Kantar Worldpanel bertajuk ‘Asia Brand Power 2015’ menunjukkan, pada 2013 pasar FMCG tumbuh 10% dibandingkan dengan 2012. Sedangkan tahun 2015, FMCG hanya mengalami pertumbuhan sebesar 4,6%. 

Sedangkan, pertumbuhan consumer good di Indonesia tahun ini sebesar 7,4%. Pertumbuhan ini menurun jika dibandingkan tahun 2014 yang tumbuh mencapai dua digit yaitu 15,2%.

Kantar Worldpanel  melakukan wawancara eksklusif dengan 11 CEO dari para pemain lokal Asia di sembilan negara untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong pertumbuhan mereka secara signifikan.

Narasumbernya,  antara lain Mayora (Indonesia), Ichitan (Thailand), Aekyung (Korea Selatan), Godrej (India), Monde Nissin (Filipina), Masan (Vietnam), YFY (Taiwan), Rebisco (Filipina), Marico (India), Sanquan (Cina), dan Vinda (Cina).

Kantar Worldpanel juga memaparkan beberapa produk dari Indonesia seperti Teh Pucuk Harum yang bersaing dengan produk inovatif dengan harga terjangkau. Teh Pucuk Harum juga berkomunikasi dengan  konsumennya melalui media sosial.

Lalu ada Kopi Luwak White Koffie yang sukses memposisikan diri sebagai kopi instan yang lebih sehat bagi jantung dan perut dengan harga yang terjangkau.

Salah satu produk Indofood, Indomie menjadi produk mie instan yang paling banyak dibeli di Indonesia. Produk Indomie hanya mampu disaingi oleh Mie Sedaap, menduduki peringkat dua teratas untuk merek yang paling dipilih oleh konsumen Indonesia berdasarkan penelitian Brand Footprint 2015.

Keberhasilan Mie Sedaap tidak terlepas dari strategi fokus pada daerah pedesaan dan menawarkan harga yang lebih terjangkau dengan isi yang lebih banyak.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA