Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Strategi Kementan Benahi Kualitas Gula Domestik

Jumat 29 Nov 2013 06:55 WIB

Rep: Meiliani Fauziah/ Red: Djibril Muhammad

Logo Kementerian Pertanian

Logo Kementerian Pertanian

Foto: antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua pihak diharapkan membantu membenahi kualitas gula dalam negri. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian, Haryono mengatakan industri semestinya turun tangan membantu petani agar menghasilkan rendeman yang tinggi.

"Bagaimanapun, petani tetap harus kita lindungi," ujarnya di kantor Kementan, Kamis (28/11).

Lebih jauh Kementan menurut dia, tengah menjalankan serangkaian strategi untuk menggenjot produksi. Caranya antara lain dengan melakukan revitalisasi pabrik gula yang sudah berdiri sejak zaman Belanda.

Teknologi yang ada sudah tidak mampu mengahasilkan gula yang bermutu tinggi dan berdaya saing. Selain itu sistem manajemen mutu juga perlu pernaikan. Ia pun mengatakan pemerintah tetap memantau peredaran gula rafinasi.

Lebih jauh ia melihat adanya kedala dalam membenahi kondisi pertanian di Indonesia secara keseluruhan. Padahal sebentar lagi negara ini akan ikut arus perdagangan bebas. "Mau tidak mau kita harus meningkatkan daya saing," katanya.

Peningkatan daya saing menurut dia bukan sebatas jumlah, namun juga mutu. Untuk tujuan tersebut dibutuhkan inovasi.

Langkah ini sekaligus dilakukan agar produk pangan impor tak makin membanjiri Indonesia ketika semakin banyak kerja sama multilateral. Ia juga melihat dibutuhkan perbaikan infrastruktur agar investasi pertanian kian berkembang.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan rendeman yang rendah menyebabkan gula petani tidak laku. Untuk itu ia berharap pemerintah bisa membeli gula dari petani.

Akibat anomali cuaca, rendeman yang biasanya bisa mencapi 10 persen, kini hanya berada di kisaran 7 persen. Selain itu harga gula dikatakan juga rendah, hanya sekitar Rp 8700 per kilogram (kg). "Kalau dijual di bawah Rp 10 ribu, petani tetap rugi," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA