Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Indonesia Perlu Optimalkan Pasar Modal

Rabu 12 Des 2012 15:18 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Fitria Andayani

Angka pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada layar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta

Angka pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada layar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta

Foto: Republika/Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun depan, sumber pembiayaan pasar modal diproyeksikan menjadi andalan perekonomian nasional. Bahkan, keberadaannya mampu menyaingi sektor perbankan.

Menteri Keuangan Agus Matowardojo mengatakan, industri perbankan hanya mampu tumbuh maksimal 30 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB).  Pergerakan pasar modal semakin lincah dan mampu tumbuh melebihi itu. "Optimalisasi pasar modal perlu dilakukan. Khususnya pembenahan dari sisi obligasi korporasi," kata Agus dalam pertemuan Ikatan Bankir Indonesia (IBI), Rabu (12/12).

Sumber-sumber pendanaan pasar modal termasuk di dalamnya surat utang negara (SUN), obligasi, saham, dan reksa dana. Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani, memaparkan kepemilikan asing pada surat berharga meningkat dari waktu ke waktu. Hingga September 2012, nilainya mencapai Rp 29,6 triliun atau 30 persen. “Indeks harga saham gabungan (IHSG) semakin membaik,” katanya.

Penguatan IHSG ditopang sentimen positif dari perkembangan kebijakan bank sentral Eropa yang membeli surat utang negara di pasar dalam jumlah yang tak terbatas. Kondisi lainnya adalah upaya pemerintah Amerika untuk memperbanyak uang beredar di Amerika (quantitative easing) untuk ketiga kalinya dalam tahun ini. 

Akibat resesi AS dan Eropa, maka Cina akan terimbas juga. Pertumbuhan ketiga kawasan itu akan melambat dan membuat harga minyak dunia 2013 relatif stabil. Sementara perekonomian Indonesia tahun depan akan cukup baik. Suku bunga akan tetap rendah dan Rupiah akan kembali ke posisi normal. Meskipun demikian, ekonomi masih dibayangi ketidakpastian harga komoditas, terutama pangan dan migas.

Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Swasta Nasional (Perbanas), Sigit Pramono memproyeksikan, tahun depan akan ada bauran ekonomi nasional yang didominasi oleh perbankan dan pasar modal. "Dalam jangka panjang, bank tak mungkin lagi menumbuhkan kredit sebagus lima tahun terakhir. Itu sudah siklusnya," katanya.

Meski demikian, untuk 2013-2014, Sigit optimis sektor perbankan masih akan menjadi andalan. Namun, pemerintah, pengusaha, dan pelaku pasar disarankan menggali sumber-sumber pendanaan lain, khususnya pasar modal. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA