Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Utang Pemerintah Bertambah Rp 45 Triliun Selama Agustus

Kamis 21 Sep 2017 17:08 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Andri Saubani

Petugas memeriksa uang di 'cash center' Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (23/8). Kementerian Keuangan mencatat, penambahan utang neto selama Agustus 2017 tercatat sejumlah Rp 45,81 triliun.

Petugas memeriksa uang di 'cash center' Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (23/8). Kementerian Keuangan mencatat, penambahan utang neto selama Agustus 2017 tercatat sejumlah Rp 45,81 triliun.

Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembiayaan APBN-P 2017 masih didukung oleh peran utang Pemerintah Pusat. Penambahan utang neto selama bulan Agustus 2017 tercatat sejumlah Rp 45,81 triliun. Utang tersebut berasal dari penarikan pinjaman sebesar Rp 2,87 triliun (neto) dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 42,94 triliun (neto).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, tambahan pembiayaan utang tersebut memungkinkan kenaikan belanja produktif di bidang pendidikan, infrastruktur, kesehatan, transfer ke daerah dan dana desa, serta belanja sosial.  ''Hingga akhir bulan Agustus 2017, utang Pemerintah Pusat berjumlah Rp 3.825,79 triliun, terdiri dari SUN sebesar Rp 2.563,24 triliun (67,0 persen), SBSN sebesar Rp 524,71 Triliun (13,7 persen), dan pinjaman sebesar Rp737,85 triliun (19,3 persen),'' kata dia, dalam siaran persnya, Kamis (21/9).

Utang tersebut didominasi oleh utang dalam mata uang Rupiah (59 persen). Sementara itu utang dalam mata uang asing, terdiri dari dolar AS (29 persen ), yen Jepang (7 persen), euro (4 persen), special drawing right (1 persen ), dan beberapa valuta asing lain (1 persen). Berdasarkan krediturnya, utang Pemerintah Pusat didominasi oleh investor SBN (80 persen), kemudian pinjaman dari Bank Dunia (6 persen), Jepang (5 persen), ADB (3 persen), dan lembaga lainnya (6 persen).

''Indikator risiko utang pada bulan Agustus 2017 masih terkendali, dengan rasio variable rate berada pada level 10,9 persen dan refixing rate pada level 19,0 persen,'' jelas Robert.

Ia menambahkan, porsi utang dalam mata uang asing berada pada level 41,2 persen. Sedangkan average time to maturity (ATM) berada pada level 8,8 tahun. Di lain sisi, indikator jatuh tempo utang dengan tenor hingga 5 tahun naik dari 38,9 persen menjadi 39,2 persen dari total outstanding utang.

Dalam pengelolaan risiko utang, lanjut Robert, pemerintah senantiasa melakukannya dengan hati-hati dan terukur. Termasuk, juga menjaga risiko pembiayaan kembali, risiko tingkat bunga, dan risiko nilai tukar dalam posisi yang terkendali.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA