Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Merger Operator Telekomunikasi Positif Bagi Persaingan Usaha

Kamis 28 Oct 2021 14:02 WIB

Red: Budi Raharjo

Menara BTS milik operator telekomunikasi terlihat dari Sungai Lintang, Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi. (ilustrasi)

Menara BTS milik operator telekomunikasi terlihat dari Sungai Lintang, Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi. (ilustrasi)

Foto: Antara/Wahdi Septiawan
Merger ibarat satukan dua kekuatan sehingga ciptakan kekuatan baru yang lebih besar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren konsolidasi bisnis terutama merger makin marak ketika pemulihan ekonomi bergulir cepat terutama saat pandemi Covid-19 melandai di negeri ini. Di sejumlah sektor, perusahaan skala besar kerap menempuh strategi merger untuk mengonsolidasikan bisnis guna menangkap peluang pertumbuhan usai pandemi.

Korporasi swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memilih strategi merger yang terbukti membuat kolaborasi bisnis makin solid dalam mengatasi persaingan pada masa depan. Sebut saja Gojek yang merger dengan Tokopedia, merger BUMN pelabuhan, hingga merger di sektor telekomunikasi.

Ekonom Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai strategi merger menjadi salah satu pilihan terbaik untuk memperluas pangsa pasar, meningkatkan teknologi, dan efisiensi operasional. Terlebih lagi di zaman disrupsi digital saat ini yang mengedepankan kolaborasi.

“Merger juga dapat membawa efek positif berupa persaingan usaha yang makin sehat dan efisiensi operasional sehingga menguntungkan konsumen secara luas,” ujarnya.

Dengan strategi merger, lanjut dia, akan tercipta kolaborasi kekuatan masing-masing korporasi guna mendorong pertumbuhan ke depan. Efisiensi operasional yang dihasilkan dari merger dapat membuat daya saing korporasi makin meningkat. “Dan ini terbukti memiliki efek positif di sektor bersangkutan,” paparnya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Nailul juga menyoroti sektor telekomunikasi yang marak melakukan merger seperti antara XL Axiata dengan Axis serta Indosat Ooredoo dengan Tri. Ia melihat merger di industri telekomunikasi membawa efek positif terhadap pengembangan industri ICT di Tanah Air. 

"Terlebih pengembangan 5G nasional saat ini dikuasai oleh salah satu operator. Sehingga merger ini diharapkan mampu membuat persaingan makin sehat sehingga pada akhirnya konsumen yang akan diuntungkan dari adanya peningkatan dan pengembangan industri telekomunikasi,” kata dia menjelaskan.

Di sisi lain, menurut dia, merger juga akan memudahkan pemerintah melakukan pengawasan serta sinergi dengan program-program yang dibuat. Misalnya, pemerataan infrastruktur telekomunikasi dan digital itu menjadi program pemerintah. 

Dengan merger, kemampuan provider pun meningkat untuk dapat membangun infrastruktur seperti tower dan BTS yang diakibatkan dari adanya efisiensi dan penambahan daya modal dari perusahaan provider. "Harapannya adalah mereka dapat membangun di daerah-daerah yang belum terjamah sinyal internet kuat," ujarnya. 

Hal senada disampaikan Head of Research Praus Capital, Alfred Nainggolan. Menurut dia, aksi korporasi merger dan akuisisi ditujukan sebagai sinergi organisasi atau korporasi untuk menyatukan kekuatan guna menghadapi persaingan yang makin ketat. Dengan merger, kolaborasi dua korporasi akan memberikan nilai tambah yang lebih besar.

“Sebagai contoh karena mereka berada dalam satu sektor atau satu core business, tentu yang diperoleh economic scale dalam bisnis tersebut, misalnya operator telekomunikasi, akan menciptakan efisiensi infrastruktur dan operasional,” jelasnya.

Alfred menilai ke depan kolaborasi dengan skema merger akan makin marak saat pemulihan ekonomi pasca pandemi bergulit cepat. “Kolaborasi dan konsolidasi menjadi kebutuhan dasar korporasi setelah melewati badai pandemi. Dan ini terlihat di berbagai sektor,” paparnya.

Dia menilai sedikitnya ada dua faktor yang melatarbelakangi maraknya merger belakangan ini. Faktor pertama, persaingan yang semakin ketat. Faktor kedua, target pertumbuhan yang makin tinggi setelah melewati badai pandemi. “Merger ibarat menyatukan dua kekuatan sehingga menciptakan kekuatan baru yang lebih dahsyat,” katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA