Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Potensi Hiperinflasi AS, Waspadai Dampak Harga Pangan Impor

Selasa 26 Oct 2021 13:04 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (29/4). Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) disebut berpotensi mengalami hiperinflasi.

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (29/4). Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) disebut berpotensi mengalami hiperinflasi.

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Hiperinflasi AS berdampak pada kenaikan harga gandum dan kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) disebut berpotensi mengalami hiperinflasi. Situasi itu secara umum bakal meningkatkan harga-harga barang, termasuk komoditas yang di ekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah, mengatakan, sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, hiperinflasi di AS bisa memberikan dampak seperti pada kenaikan harga kedelai dan gandum.

"Ini dampak secara langsung. Kedelai itu sebagai bahan baku tahu tempe gandum itu bahan baku mie dan roti. Ini perlu diantisipasi," kata Rusli kepada Republika.co.id, Selasa (26/10).

Rusli mengatakan, hiperinflasi pada salah satunya bisa disebabkan oleh lonjakan permintaan secara tiba-tiba akibat pemulihan ekonomi pasca Covid-19 namun tidak diimbangi dengan kemampuan produksi.

Indonesia sebagai importir sejumlah komoditas pangan perlu mengamankan harga pangan sejak dini dengan sistem kontrak yang berlaku. Kementerian Perdagangan (Kemendag), sebut Rusli perlu sejak dini mengidentifikasi produk-produk impor strategis dari AS yang memiliki kemungkinan kenaikan harga.

"Apa komoditasnya dan berapa lama kontrak harganya. Bilaperlu memperpanjang kontrak harga tiga hingga enam bulan misalnya. Memang harus cepat-cepat mengamankannya," kata Rusli.

Adapun untuk faktor dalam negeri, ia menilai sejauh ini tidak terdapat faktor kuat yang bisa menyebabkan lonjakan inflasi. Apalagi, selama periode pemerintahaan saat ini angka inflasi menjadi yang paling terkendali dari pemerintah terdahulu.

Hanya saja, kemungkinan musim kekeringan pada tahun depan juga memerlukan antisipasi sejak saat ini. Sebab, kekeringan sangat rentan terhadap potensi penurunan produksi pangan dalam negeri. Di saat yang bersamaan, jika Covid-19 semakin terkendali pada 2022, permintaan dan daya beli masyarakat akan terus mengalami kenaikan.

Situasi tersebut menurut Rusli bisa menyebabkan adanya kenaikan inflasi secara signifikan. "Tahun depan saya kira Kementan, Kemendag, dan BMKG jangan jalan sendiri-sendiri. Semua potensi harus diantisipasi," kata dia.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA