Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Neraca Dagang Pertanian Defisit 2,81 Miliar Dolar AS

Selasa 20 Oct 2020 04:00 WIB

Red: Nidia Zuraya

Sayuran dan buah produk hortikultura (ilustrasi)

Sayuran dan buah produk hortikultura (ilustrasi)

Foto: distan.pemda-diy.go.id
China sebagai negara tujuan ekspor dan asal impor terbesar Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat bahwa neraca perdagangan produk pertanian periode Januari - Agustus 2020 mengalami defisit sebesar 2,81 miliar dolar AS. Nilai ekspor tercatat 2,4 miliar dolar AS dan impor 5,21 miliar dolar AS.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Kasan Muhri mengatakan produk-produk pertanian Indonesia banyak diserap oleh negara besar, salah satunya China. Namun begitu, potensi ekspor sejumlah komoditas, termasuk buah-buahan masih bisa dimanfaatkan lebih besar lagi.

"Saya catat misalnya buah naga, sarang burung walet, pisang. Semuanya sudah diekspor dan daya saing cukup baik, namun belum sepenuhnya bisa memanfaatkan potensi besar di China," kata Kasan dalam webinar yang digelar Markplus Inc, Senin (19/10).

Kasan menyebutkan bahwa China, selain sebagai negara tujuan ekspor terbesar, juga menjadi negara asal impor terbesar Indonesia. Pada periode Januari - Agustus 2020 Kemendag mencatat ekspor produk pertanian Indonesia yang terbesar adalah ke China dengan nilai 471 juta dolar AS, kemudian diikuti oleh Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura.

Namun demikian China juga menjadi negara asal impor produk pertanian terbesar bagi Indonesia dengan porsi 19,6 persen.

Ada pun pertanian memang menjadi salah satu sektor yang tumbuh positif selama masa pandemi Covid-19 yakni sebesar 2,19 persen pada kuartal II-2020. Sektor pertanian menjadi kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia sebesar 15,48 persen.

Di saat yang sama, sektor lainnya mengalami kontraksi yang cukup daam, seperti industri, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. "Dalam konteks growth selama Covid-19 sampai semester I-2020 memang produk pertanian masih tetap tumbuh, sedangkan yang lain mengalami kontraksi termasuk perdagangan," kata Kasan.

Oleh karena itu Kemendag mendorong agar produk pertanian unggulan ekspor, seperti kopi, sayuran, buah pinang, kelapa, cengkeh, dan lada, untuk dapat memaksimalkan volume ekspornya.

Dalam catatan Kemendag ekspor sejumlah komoditas pertanian melonjak tinggi pada periode Januari-Agustus 2020. Ekspor sayuran tercatat naik 68,69 persen, kelapa 189,19 persen, jambu, mangga, dan manggis 134,49 persen, dan pala meningkat 32,17 persen.

Sementara itu ekspor pertanian di sejumlah negara lainnya pada periode Januari-Agustus 2020 mengalami pertumbuhan signifikan, bahkan mencapai tiga digit, yakni Iran 297,47 persen, Spanyol 19,17 persen, dan Filipina 100,59 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2019.





sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA