Kamis 06 Aug 2020 11:41 WIB

Jokowi Keluhkan tak Meratanya Lalin Penerbangan di Indonesia

Saat ini terdapat 30 bandara internasional di Indonesia.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nidia Zuraya
Presiden RI, Joko Widodo
Foto: BPMI
Presiden RI, Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan banyaknya airline hub atau bandar udara yang ada di Indonesia dan tidak merata di berbagai daerah. Ia menyebut, saat ini terdapat 30 bandara internasional di Indonesia.

Presiden pun mempertanyakan kembali apakah Indonesia memerlukan bandara internasional sebanyak itu. Karena itu, saat membuka rapat terbatas penggabungan BUMN sektor aviasi dan pariwisata di Istana Merdeka pada Kamis (6/8) pagi, Presiden meminta agar hal ini dikaji kembali.

Baca Juga

“Saya melihat bahwa airline hub yang kita miliki terlalu banyak, terlalu banyak dan tidak merata. Jadi ini agar kita lihat lagi. Saat ini terdapat 30 bandara internasional, apakah diperlukan sebanyak ini. Negara-negara lain saya kira gak melakukan ini, coba dilihat,” ujar Jokowi.

Jokowi mengungkapkan dari 30 bandara internasional yang dimiliki, lalu lintas penerbangan pun hanya terpusat di empat bandara. Yakni bandara Soekarno Hatta di Jakarta, bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, bandara Juanda di Jawa Timur, dan bandara Kualanamu di Sumatera Utara. 

“Dan 9% lalu lintas terpusat hanya di empat bandara. Artinya kuncinya ada di empat bandara ini,” tegas Jokowi.

Presiden kemudian menginstruksikan jajarannya agar menentukan bandara yang berpotensi menjadi internasional hub dengan pembagian fungsi sesuai dengan letak geografis dan karakteristik wilayah.

Menurut Jokowi, terdapat delapan bandara internasional yang berpotensi menjadi hub dan superhub. Yakni bandara I Gusti Ngurai Rai di Bali, bandara Soekarno Hatta di Jakarta, bandara Kualanamu di Sumatera Utara, bandara YIA di Yogyakarta, bandara di Balikpapan, bandara Sultan Hasanuddin di Makasar, bandara Sam Ratulangi di Manado, dan juga bandara Juanda di Surabaya.

Jokowi mengatakan, krisis yang terjadi saat ini serta pertumbuhan ekonomi yang turun hingga -5,32 persen menjadi momentum untuk melakukan konsolidasi dan transformasi di bidang pariwisata dan juga penerbangan. Transformasi dapat dilakukan melakukan melalui penataan rute penerbangan, penentuan hub dan juga super hub, serta kemungkinan penggabungan BUMN dan pariwisata. 

“Sehingga arahnya menjadi semakin keliatan. Sehingga next pandemic, pondasi ekonomi di sektor pariwisata dan transportasi akan semakin kokoh dan semakin baik dan bisa berlari lebih cepat lagi,” ujar Jokowi

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement