Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Pemerintah Kaji O-Bahn Sebagai Alternatif Angkutan Massal

Senin 24 Jun 2019 09:17 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Para pengguna kendaraan pribadi diharapkan beralih menggunakan layanan angkutan massal premium

Para pengguna kendaraan pribadi diharapkan beralih menggunakan layanan angkutan massal premium

Foto: dok adhi
Kapasitas O-Bahn lebih besar dari pada bus Transjakarta, tapi lebih kecil dari LRT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama O-Bahn. O-Bahn diharapkan bisa menjadi alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

Baca Juga

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan pihaknya tengah berupaya mengoptimalkan prasarana dan sarana Transportasi Massal Perkotaan di Indonesia. Mengingat saat ini telah hadir berbagai macam angkutan massal perkotaan telah dibangun seperti Bus Rapid Transit (BRT), Light Rapid Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).

“Hal ini dalam rangka mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang berdampak terjadinya kemacetan yang menjadi permasalahan serius di daerah perkotaan di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika, Senin (24/6).

Menurut dia, dengan semakin terbangunnya infrastruktur jalan, tentunya perlu dilakukan antisipasi agar masyarakat tidak memenuhinya dengan kendaraan pribadi. Caranya yaitu dengan mengoptimalisasikan angkutan massalnya.

“Kami terus memperbaiki semua sarana dan fasilitas menyangkut angkutan umum. Kita juga harus cepat merespon karena beberapa kota besar di Indonesia sudah mulai mengalami kemacetan,” tuturnya.

Sementara Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri menambahkan seiring dengan perekembangan teknologi saat ini banyak dikembangkan moda angkutan massal seperti O-Bahn yang dapat dibangun dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan LRT, namun agak lebih mahal dibandingkan dengan BRT biasa.

Zulfikri menuturkan, kapasitas O-Bahn lebih besar dari pada bus Transjakarta, tapi lebih kecil dari LRT. "Anggarannya memang lebih besar dari pada busway karena kita harus membangun beberapa ruas jalur. Untuk tempatnya mungkin di luar dari Jakarta, karena itu kita perlu lihat lagi bagaimana masterplan kotanya. Maka kita perlu kaji lebih lanjut dan duduk bersama dengan Pemda dan stakeholder terkait,” paparnya.

O-Bahn merupakan bagian dari sistem transit BUS cepat. O-Bahn ini memadukan konsep BRT dan LRT dalam satu jalur yang sama. 

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur. Sistem ini pertama kali diterapkan di Kota Essen, Jerman dan saat ini sudah digunakan di berbagai negara seperti Australia dan Jepang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA