Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Ini Tujuh Tantangan UMKM Perluas Pasar Menurut Marketplace

Kamis 20 Jun 2019 08:06 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

PAYUNG GEULIS. Suasana salah satu bengkel produsen Payung Geulis khas Tasik di sentra pengrajin payung Panyingkiran, Kota Tasikmalaya, Jumat (22/3).

PAYUNG GEULIS. Suasana salah satu bengkel produsen Payung Geulis khas Tasik di sentra pengrajin payung Panyingkiran, Kota Tasikmalaya, Jumat (22/3).

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Jaringan bisnis pelaku usaha yang terbatas menjadi tantangan UMKM perluas pasar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Platofrm jual beli online, Blibli.com memaparkan tujuh tantangan usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) di Indonesia ketika akan memperluas bisnis. Tantangan UMKM di tengah masifnya ekonomi digital semakin berat, tetapi dibalik tantangan tersebut turut memberikan peluang baru. 

Berdasarkan data terakhir dari Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 63 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, Deputi Credit Marketing Officer (CMO) Blibli.com, Andy Adrian mengatakan, dari jumlah UMKM yang sangat banyak itu, baru sekitar 3,7 juta UMKM yang telah masuk dan aktif berdagang melalui marketplace. 

Baca Juga

"Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional sekitar 60 persen. Ini menarik dan Blibli.com juga berperan untuk mendorong pengembangan UMKM," kata Andy di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (19/6). 

Ia memaparkan, tantangan pertama yang sudah pasti bakal dihadapi yakni penguasaan pasar. Hal itu menjadi hambatan sekaligus tantangan yang harus dilewati setiap pelaku usaha untuk dapat bertahan. Tantangan kedua, yakni persoalan pendanaan. 

"UMKM juga mengalami kendala funding yang kepentok," katanya. 

Selanjutnya, yang ketiga, Andy mengatakan jaringan bisnis pelaku usaha mikro dan kecil juga masih terbatas. Termasuk jaringan pelaku usaha ke pemerintah, sesama rekan bisnis, hingga ke pasar itu sendiri. 

Tantangan keempat yakni sistem logistik UMKM. "Mereka (UMKM) tidak punya sistem logistik, pembayaran dan pelayanan yang baik kepada konsumen," ujarnya. 

Selain sistem logistik, pengetahuan bisnis juga mesti dimiliki setiap pelaku usaha. Hal itu menjadi tantangan berbisnis kelima. 

Andy mengatakan, setiap orang yang memutuskan untuk membangun bisnis harus dapat mengemas bisnis yang ia jalankan agar dapat dikenal konsumen. Ia mengatakan, tentunya pengetahuan dalam memilih produk yang bakal dijadikan objek untuk berbisnis harus memperhatikan jumlah pesaing di lapangan. 

Adapun tantangan yang keenam inovasi dan kreativitas. Menurut dia, inovasi dari suatu produk bisa menjadi sulit tapi bisa menjadi kunci keberhasilan usaha. Sedangkan tantangan terakhir adalah online platform. Ia menilai, UMKM saat ini perlu untuk masuk ke online plaform agar dapat membesar skala ekonomi dari usaha yang dijalankan. 

"Disinilah pendekatan kita (marketplace) untuk dapat membantu UMKM untuk menuju kunci sukses bisnisnya," ujarnya. 

SPV Trade Partnership Merchant Sales Operation and Development Blibli.com, Geoffrey Dermawan, menambahkan, saat ini terdapat sekitar 3.000 UMKM podusen lokal yang berjualan melalui plaform Blibli.com. Ia mengatakan, pihaknya menargetkan agar tahun ini jumlah UMKM yang bergabung bisa naik ke 5.000 hingga 6.000 UMKM. 

"Pelaku usaha mikro yang menggunakan internet masih sangat sedikit. Makanya ini peluang market bagi kami untuk bekerja sama dengan pemerintah dan menginformasikan kepada mereka soal marketplace," ujar dia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA