Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Menkeu: Dampak Hasil Pilpres Sudah Diantisipasi Pelaku Usaha

Kamis 23 May 2019 15:45 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Konferensi pers hasil rapat koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/5). Turut hadir  (kiri-kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti.

Konferensi pers hasil rapat koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/5). Turut hadir (kiri-kanan) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti.

Foto: Republika/Adinda Pryanka
Pengusaha tetap percaya ekonomi Indonesia dalam kondisi baik pasca pengumuman pilpres

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, dampak dari pengumuman hasil Pemilihan Umum (Pemilu) sudah diantisipasi oleh pelaku pasar, investor maupun pengusaha melalui berbagai macam indikator. Oleh karena itu, tidak ada efek kejutan atau elemet of surprise terhadap perekonomian dalam negeri.

Tapi, Sri sangat menyayangkan akan aksi sepanjang hari kemarin yang hingga menyebabkan kerusuhan. Sebab, investor luar negeri dan sejumah kepala negara telah memberikan ucapan selamat kepada pemenang pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Baca Juga

"Itu menggambarkan bahwa mereka percaya atas penyelenggaraan pemilu dan hasilnya," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (23/5).

Kalaupun ada perbedaan, Sri menambahkan, undang-undang telah memberikan mekanismenya tersendiri. Masyarakat dan pelaku usaha dalam negeri maupun internasional sudah berharap, Indonesia sebagai negara demokrasi dapat melakukan mekanisme tersebut.

Namun, Sri optimistis, aksi yang terjadi sepanjang dua hari belakang tidak mengurangi rasa percaya diri pelaku usaha dalam negeri. Menurutnya, pengusaha tetap percaya bahwa ekonomi Indonesia akan tetap dalam kondisi baik pasca pengumuman pemilu. "Itu pandangan yang benar dan harus tetap dipertahankan," ucapnya.

Sri menambahkan, optimisme tersebut seiring dengan keyakinan terhadap aparat penegak hukum yang dapat menangani permasalahan sesuai dengan peraturan perundang-undanga yang berlaku. Sri juga mengajak masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan kepada institusi terkait untuk melaksanakan tugasnya untuk menjaga pelaksanaan undang-undang secara tertib.

Dibandingkan faktor dalam negeri, Sri menuturkan, faktor eskternal justru lebih berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Tindakan drastis dari pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memberikan tarif tambahan terhadap produk China merupakan element of surprise. Kebijakan ini tidak diantisipasi oleh seluruh negara, termasuk Indonesia.

Menurut Sri, saat Spring Meeting beberapa waktu lalu, dialog antara AS dengan China memunculkan harapan akan terjadinya negosiasi. Oleh karena itu, saat Presiden AS Donald Trump menyampaikan ketidakpuasannya terhadap perkembangan dialog dengan China dan memutuskan menambah tarif impor, seluruh market dan pembuat kebijakan tidak mengantisipasinya.

Sri mengatakan, signal tersebut membuat seluruh pasar saham dan obligasi hingga nilai tukar terpengaruh. "Jadi, faktor ini (perang dagang AS dengan China) lebih ke element of surprise," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, faktor global juga yang menyebakan pelemahan rupiah sejak beberapa hari terakhir. Eskalasi perang dagang AS dengan China serta dinamika geopolitik seperti AS dengan Iran terkait minyak berkontribusi atas kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini.

Tapi, Perry melihat, pelemahan rupoah tidak akan berlangsung lama. Sebab, para eksportir melakukan aksi menjual devisa ke pasar valuta asing (valas). "Oleh karena itu, terima kasih kepada para eksportir dan dunia perbankan yang menjaga stabilitas nilai tukar," katanya.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA