Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Efek Pemilu, Kadin Jaga Momentum Ekonomi

Rabu 24 Apr 2019 08:56 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dalam acara malam rembuk pengusaha nasional, di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (23/4). Dalam kesempatan tersebut, Kadin mengajak seluruh pihak untuk menjaga persatuan.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dalam acara malam rembuk pengusaha nasional, di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (23/4). Dalam kesempatan tersebut, Kadin mengajak seluruh pihak untuk menjaga persatuan.

Foto: Republika/Imas Damayanti
Tantangan ekonomi ke depan adalah meningkatkan produktivitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usai Pemilu 2019 pada 17 April kemarin, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bersiap menjaga momentum ekonomi melalui penguatan rupiah hingga meningkatnya jumlah investasi yang masuk. Di sisi lain, dunia usaha juga terus berupaya menatap tantangan perkembangan teknologi 4.0.

Baca Juga

Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani mengatakan, siapapun yang terpilih nanti sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia harus terus berkomitmen dan berupaya menjaga stabilitas politik, keuangan, kepastian hukum, serta pertumbuhan ekonomi. Hal itu seiring dengan perkembangan dunia digital yang cepat dan menuntut produktivitas yang tinggi.

“Tantangan ke depan, produktivitas harus ditingkatkan. Karena sekarang zaman serba cepat yang menuntut produktivitas pekerja, jadi bukan zaman buruh murah lagi,” kata Rosan kepada wartawan usai acara Malam Rembuk Pengusaha Nasional, di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (23/4) malam.

Untuk itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sangat penting guna mengejar perkembangan ekonomi. Rosan mengatakan, isu mengenai masifnya tenaga kerja asing (TKA) yang ada di Indonesia tidak perlu dikhawatirkan. Saat ini, kata dia, jumlah TKA yang ada berjumlah 98 ribu atau 0,03 persen saja. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit ketimbang total tenaga kerja Indonesia.

Sedangkan jumlah TKA asal Cina, kata Rosan, hanya berjumlah 30 ribu orang. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan TKA Cina yang berada di sejumlah negara yang tergabung dalam ASEAN. Menurutnya, dengan realita tersebut isu serbuan TKA tidak perlu dikhawatirkan berlebih dan lebih baik memfokuskan pikiran terhadap peningkatan SDM usai Pemilu 2019 ini terlaksana.

Dia menjelaskan, jika dibandingkan dengan pekerja-pekerja di wilayah Asia Tenggara, produktivitas tenaga kerja Indonesia terbilang masih rendah. Dengan adanya perkembangan teknologi 4.0 yang berbasis pada Artificial Intellegence (AI), beberapa kalangan memprediksi sejumlah bidang pekerjaan akan hilang. Namun tak menutup kemungkinan, kata Rosan, akan tercipta jenis pekerjaan baru.

“Terlebih saat ini mata uang kita menguat, ada investor dari portofolio masuk. Jadi harus dijaga betul momentumnya,” kata dia.

Mantan ketua umum Kadin Aburizal Bakrie mengatakan, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan negara berkembang lainnya. Kendati demikian, sejauh ini masih banyak yang perlu diperbaiki guna mempercepat kemajuan perekonomian nasional.

“Sejauh kita terus reaktif dan mau bekerja keras serta bersatu, saya yakin pada saat kita merayakan satu abad proklamasi nanti di 2045, Indonesia sudah bisa menjadi negara maju,” kata dia.

Untuk itu dia mengimbau pelaku usaha dan semua elemen untuk kembali menjaga momentum yang sudah diraih Indonesia. Pada abad 21 ini, kata dia, siapa yang dapat menguasai pengetahuan maka akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan ekonomi global yang semakin ketat. Itu sebabnya, peningkatan kapasitas pekerja harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dia mencontohkan, beberapa perusahaan besar dunia yang muncul dalam revolusi industri seperti Exxon GM dan lainnya, telah banyak digantikan oleh perusahaan-perusahaan berbasis teknologi digital seperti Apple, Amazon, Google, Facebook, dan Tesla. Semua perusahaan tersebut, kata dia, mampu menyalip penguasaan pasar dari sektor usaha konvensional.

“Gaya bisnis sudah berubah, maka tenaga kerja perlu dibekali kemampuan ilmu pengetahuan guna menggerakkan peranan AI ini,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA