Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

UMKM Gojek Sumbang Rp 18 Triliun untuk Ekonomi Indonesia

Rabu 24 Apr 2019 05:00 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Gojek menggelar Go-Food Festival. ilustrasi

Gojek menggelar Go-Food Festival. ilustrasi

Foto: Republika/Eko Supriyadi
Go-Food membantu meningkatkan omzet dan skala bisnis UMKM

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) melakukan survei terkait layanan Go-Food dari Gojek sebagai mitra bisnis yang paling menguntungkan secara omzet. Survei dilakukan di sembilan kota antara lain Balikpapan, Bandung, Jabodetabek, Denpasar, Makassar, Medan, Palembang, Surabaya, Yogyakarta.

Baca Juga

Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C K Walandouw mengatakan pada akhir tahun mitra UMKM Go-Food berkontribusi sebesar Rp 18 triliun kepada perekonomian Indonesia. Sebanyak 55 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet dari sejak mereka gabung Go-Food; sebanyak 72 persen responden UMKM mengalami kenaikan klasifikasi omzet setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food; dan 93 persen responden UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food.

“Berdasarkan hasil survei LD FEB UI 2018 kepada 1,000 mitra UMKM Go-Food di sembilan kota berkontribusi sebesar Rp 18 triliun kepada perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan metode perhitungan yang sama, kontribusi mitra UMKM Go-Food pada 2017 adalah Rp 6,9 triliun,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika, Selasa (23/4).

Menurutnya hasil survei ini menunjukkan bagaimana Go-Food membantu meningkatkan omzet dan skala bisnis UMKM, serta persepsi positif UMKM terhadap kemitraan mereka dengan Go-Food. Adapun penilaian UMKM ini didasarkan pada dampak positif yang dirasakan mitra UMKM yang bergabung dengan Gojek di layanan Go-Food, mulai dari kemitraan dengan Go-Food yang menguntungkan, peningkatan volume transaksi hingga kenaikan klasifikasi omzet usaha.

“Peningkatan klasifikasi omzet usaha ini menunjukkan UMKM yang bergabung dengan Go-Food mengalami perluasan pasar dan naik kelas, seperti dari mikro ke kecil dari kecil ke menengah. Dengan UMKM yang naik kelas dan usahanya membesar, maka mereka bisa menyerap tenaga kerja dan menyumbang lebih banyak kepada ekonomi daerah atau nasional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Paksi memaparkan peningkatan volume dan omzet bisnis memacu mitra UMKM untuk terus mengembangkan usahanya. Hal ini ditunjukkan dari 85 persen responden UMKM yang menginvestasikan kembali pendapatannya dari Go-Food ke dalam usaha mereka.

Terkait manfaat yang dirasakan mitra Go-Food, Paksi menjelaskan bahwa UMKM menilai positif prospek bisnis dengan Go-Food secara jangka panjang dibandingkan dengan layanan sejenis lainnya. Saat responden UMKM ditanyakan apa alasan utama mereka bergabung dengan Go-Food, berikut hasil temuan survey antara lain sebanyak 87 persen responden UMKM menilai layanan Go-Food lebih terpercaya dibandingkan kompetitor; 87 persen responden UMKM menilai layanan Go-Food lebih aman dibandingkan kompetitor; dan 90 persen responden UMKM bergabung menjadi mitra Go-Food karena Go-Food sudah ada lebih lama di Indonesia dibandingkan kompetitor.

“Penilaian positif dalam prospek bisnis jangka panjang menyuratkan kepercayaan UMKM kepada platform teknologi seperti Gojek yang membawa dampak positif berkelanjutan kepada bisnis mereka di tengah perubahan perilaku konsumen terutama di segmen generasi millenial dan generasi Z,” ucapnya.

Paksi menambahkan teknologi Gojek di bisnis pesan-antar makanan online yang dinilai paling menguntungkan oleh para responden UMKM, tercermin dari beberapa temuan dalam riset LD FEB UI yakni 92 persen  responden UMKM bergabung karena layanan aplikasi manajemen merchant Go-Food yang memudahkan, khususnya teknologi yang memberikan informasi pesanan kepada merchant sebelum mitra driver datang, serta memberikan keleluasaan merchant untuk mengubah menu, harga, foto, dan jam operasional secara mandiri; 92 persen responden UMKM bergabung karena kemudahan teknologi non-tunai Go-Pay, khususnya membebaskan dari kebutuhan menyediakan uang kembalian; 87 persen responden UMKM bergabung karena teknologi keamanan Go-Food yang canggih, khususnya dengan menjamin keamanan transaksi dengan PIN antara mitra restoran dan mitra driver; 87 persen responden UMKM bergabung karena teknologi pembayaran di tempat Gojek lewat teknologi QR Code Go-Pay; dan 79 persen responden UMKM bergabung menjadi mitra karena teknologi Go-Food menyediakan layanan pencatatan transaksi digital.

“Temuan ini mengindikasikan teknologi manajemen merchant menjadi kunci mengakselerasi pertumbuhan dan daya saing UMKM di era digital. Dalam menumbuhkan bisnis UMKM tidak cukup hanya membantu mereka memperluas pasar, tetapi juga harus membangun ekosistem untuk perkembangan UMKM,” ungkapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA