Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Soal Tiket Pesawat, Pengamat: Masyarakat Perlu Diedukasi

Senin 22 Apr 2019 07:35 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda

Aktivitas bandara.

Aktivitas bandara.

Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Penjualan tiket di batas atas membantu perusahaan memperbaiki kinerja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya masih meminta maskapai untuk lebih tuntas lagi dalam menentukan subklas tiket pesawat. Hanya saja disisi lain, pengamat penerbangan Arista Atmajati melihat bukan saatnya lagi maskapai yang harus ditekan namun masyarakat perlu diedukasi. 

"Untuk tiket, masyarakat kelihatannya menyalahkan menterinya tapi masyarakat perlu diedukasi, itu (harga tiket) kan keseimbangan pasar," kata Arista kepada Republika.co.id, Ahad (21/4). 

Baca Juga

Artinya, lanjut dia, maskpai juga ingin memperbaiki kinerjanya setelah tiga tahun itu selalu rugi. Menurut Arista, hal tersebut tentu akan membuat maskapai untuk memperbaiki kinerja dan mencari keuntungan untuk perusahaan di tengah operasional semakin tinggi. 

Dia menambahkan, hal tersebut terlihat dampaknya setelah Garuda Indonesia menjual tiketnya dengan tarif batas atas. "Selama tiket Garuda di harga tinggi yang memang itu sebenarnya harga sebenarnya kan langsung untung," ujar Arista. 

Arista mengatakan, pada 2018 akhir, pendapatan Garuda mulai membaik. Bahkan, kata dia, pada kuartal pertama tahun ini, Garuda juga sudah mengalami keuntungan meski tidak tinggi tapi penjualan tiket di kisaran batas atas mampu memeprbaiki kinerja keuangan maskapai. 

Beberapa waktu lalu saat ditemui di Gedung Kemenhub, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan mengatkan pada dasarnya maskapai tidak pernah menaikkan harga tiket. "Kalau kita lihat sebenarnya harga tiket dari dulu memang segitu. Garuda juga harganya segitu," kata Ikhsan. 

Hanya saja, Ikhsan mengakui selama tiga sampai lima tahun terakhir ada fenomena perang harga di antara maskapai. Menurut Ikhsan, maskapai berlomba-lomba menurunkan harga yang sebenarnya tarif tersebut bukan harga sesungguhnya. 

Sehingga, lanjut Ikhsan, banyak masyarakat menganggap harga promo tersebut merupakan harga sesungguhnya tiket pesawat. "Itu harga yang akhirnya membuat maskapai itu sekarang pada berdarah. Coba mungkin lihat laporan keuangan rata-rata maskapai ada yang utuh tidak?" ungkap Ikhsan. 

Untuk itu, Ikhsan menegaskan saat ini Garuda paham tidak bisa terus menerus memberikan harga yang memang di bawah biaya operasional maskapai. Ikhsan menegaskan maskapai harus sesuai kan pengeluaran sesungguhnya untuk menjaga kinerja perusahaan. 

"Kalau tidak dijaga, nanti kelangsungan bisnis ini terganggu dan ujung-ujungnya masyarakat juga yang merasakan. Bagi kita harga ini juga sudah kita sesuaikan," ungkap Ikhsan. 

Ikhsan menegaskan pada dasarnya Garuda dan maskapai lainnya sudah diberikan batas atas dan bawah sesuai aturan yang baru dikeluarkan pemerintah. Ikhsan menegaskan Garuda tidak akan keluar dari koridor tersebut dalam menentukan harga tiket pesawat. 

Setelah menerapkan harga tiket yang sebenarnya, hal tersebut ternyata berdampak pada pendapatan Garuda Indonesia Group. Maskapai tersebut mencatat pertumbuhan kinerja positif pada kuartal satu 2019. Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan laba bersih pada kuartal satu 2019 sebesar 19,7 juta dolar AS yang tumbuh signifikan dari rugi 64,3 juta dolar AS pada kuartal datu 2018. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA