Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Menperin: Industri Manufaktur Masuki Era New Normal

Senin 15 Apr 2019 18:04 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama jajaran menteri menekan tombol pelepasan ekspor manufaktur menggunakan kapal besar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5). Dengan menggunakan kapal kontainer raksasa ukuran 10.000 TEUs, bobot 95.263 GT, dan panjang 300 meter ini akan menuju Los Angles, AS.

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama jajaran menteri menekan tombol pelepasan ekspor manufaktur menggunakan kapal besar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5). Dengan menggunakan kapal kontainer raksasa ukuran 10.000 TEUs, bobot 95.263 GT, dan panjang 300 meter ini akan menuju Los Angles, AS.

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB Indonesia mencapai 30 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menegaskan, peta jalan revolusi industri keempat yang dinamakan Making Indonesia 4.0 menyelamatkan Indonesia dari deindustrialisasi. Melalui proses digitalisasi teknologi industri, Airlangga menilai kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional bisa lebih ditingkatkan.

“Ini yang mau didorong dengan adanya peta jalan. Hari ini, peta jalan itu sudah mulai berjalan satu tahun sejak diluncurkan pada tahun lalu,” kata Airlangga disela kegiatan Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Senin (15/4).

Baca Juga

Ia menyatakan, pada era 1998, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB Indonesia mencapai 30 persen. Saat itu, nilai PDB secara nasional mencapai sekitar 95 miliar dolar AS. Kini, jelang 20 tahun, kontribusi sektor industri terhadap PDB nasional hanya 20 persen. Namun, dengan catatan, nilai PDB Indonesia sudah mencapai 1 triliun dolar AS.

“Jadi dunia ini sudah mengarah kepada new normal. Tolong dicatat, saat ini tidak ada negara yang sektor industri manufakturnya berkontribusi hingga 30 persen terhadap PDB,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga mencontohkan, Cina sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia, yang sektor manufakturnya hanya berkontribusi sebesar 29 persen. Sementara Jerman, salah satu pelopor industri 4.0 di kawasan Eropa, manufakturnya hanya berkontribusi sekitar 20 persen, seperti Indonesia.

Oleh sebab itu, dari riset yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian bersama lembaga konsultas global McKinsey, revolusi industri 4.0 yang sedang digencarkan terus oleh pemerintah bisa meningkatkan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional. Airlangga mencatat, setidaknya porsi kontribusi dapat ditingkatkan antara satu sampai dua persen.

Jika revolusi industri 4.0 dapat berjalan sesuai target, Airlangga menegaskan, nilai ekonomi dari industri manufaktur di Indonesia bisa mencapai antara 125 miliar dolar AS sampai 150 miliar dolar AS pada 2025 mendatang. Seiring dengan peningkatan itu, Airlangga menilai akan tumbuh 22 juta lapangan pekerjaan baru, dimana, 4,5 juta lapangan kerja khusus pada bidang manufaktur dan sisanya di sektor jasa.

“Lima sektor yang diprioritaskan yakni elektronik, makanan minuman, textile clothing, dan foodware. Kelima sektor ini yang harus menjadi percontohan,” kata Airlangga.

Pemerintah, lanjut dia, telah memiliki indikator tingkat kesiapan industri di Indonesia atau INDI 4.0. Pada tahap awal, INDI 4.0 telah diikuti oleh 326 perusahaan industri di kelima sektor unggulan tersebut. Airlangga mengklaim, pihaknya terus mendorong para peserta agar bisa secara total menerapkan industri 4.0 yang berbasis teknologi digital.

“Jerman saja baru memulai industri 4.0 sejak 2011 dan belum semuanya menerapkan. Kita tentu terus mendorong,” kata dia. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA