Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Arah Pengembangan Energi Terbarukan Semakin tak Jelas

Senin 18 Feb 2019 09:59 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nidia Zuraya

Capres No 01 Joko Widodo dan Capres No 02 Prabowo Subianto usai debat kedua calon presiden pemilu 2019, Jakarta, Ahad (17/2).

Capres No 01 Joko Widodo dan Capres No 02 Prabowo Subianto usai debat kedua calon presiden pemilu 2019, Jakarta, Ahad (17/2).

Foto: Republika/Prayogi
Kedua capres tidak menyinggung sumber energi terbarukan nonbiodiesel dalam debat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi dan pemerhati energi terbarukan kecewa degan pembahasan tema energi dan pangan dalam debat kedua calon presiden (capres), Ahad (17/2) malam. Menurut mereka, arah pengembangan energi terbarukan semakin tidak jelas di Indonesia.

Baca Juga

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Asosiasi-asosiasi Energi Terbarukan, Kamar Dagang dan Industri Indonseia (KADIN), dan Institute for Essential Service Reform (IESR) berpendapat debat capres kedua sangat mengecewakan, khususnya menyangkut bidang energi terbarukan.

Alasannya, tidak satu pun dari kedua calon presiden membahas tentang energi terbarukan, kecuali sedikit tentang biodiesel, green energy, bioethanol. Namun, tidak ada yang menyinggung energi terbarukan lain, seperti PLTA, PLTP, PLT Bayu, PLTS dan teknologi pembangkitan lainnya.

“Kami semakin mempertanyakan kemana arah pengembangan energi terbarukan ke depannya,” kata Ketua Umum METI Surya Darma dalam keteragan tertulisnya, Senin (18/2).

Menurut dia, hasil debat kedua semakin menegaskan bahwa energi terbarukan bukan menjadi isu utama bagi kedua calon presiden. Kendati, dia mengatakan, calon presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyampaikan bahwa pemerintahannya akan berupaya menurunkan kontribusi bahan bakar fosil untuk digantikan dengan bioenergi.

Surya menyebut asosiasi dan pemerhati energi terbarukan berharap kedua capres dapat memaparkan ide dan strategi untuk lebih meningkatkan peran energi terbarukan di sektor pembangkitan dan transportasi. Namun, menurut dia, hal itu sebatas harapan saja.

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menjelaskan target energi terbarukan yang ditetapkan dalam kebijakan energi nasional sebesar 23 persen dalam bauran energi. Sementara, sampai 2018 hanya 8 persen target terpenuhi.

Fabby juga mempertanyakan ihwal bagaimana Indonesia bisa mencapai target 23 persen pada 2025. Karena, menurutnya, kedua capres tidak menunjukkan komitmen pengembangan energi terbarukan.

“Yang pasti, kita tidak akan bisa mencapai target 23 persen energi terbarukan kalau hanya mengandalkan pemanfaatan bioenergi,” ujar dia.

Salah satu Ketua Bidang METI Nanang Basnawi menyebut, kenyataannya krisis energi sudah akan terjadi. Karena itu, menurut dia, seharusnya kedua capres bisa memberikan gambaran lebih baik ihwal bagaimana masing-masing calon presiden mengantisipasi hal itu.

Selain itu, seharusnya kedua capres bisa menyampaikan rencana aksi agar krisis energi bisa diatasi dengan baik.

Kadin bidang Energi Terbarukan dan Lingkungan Hidup Fauzi Imron menyadari format debat kedua ini menjadi salah satu sumber masalah tidak terangkatnya isu energi terbarukan. Kendati demikian, menurut dia, kedua capres memiliki kesempatan membahas isu tersebut dalam sesi saling melemparkan pertanyaan.

Untuk mengobati kekecewaan para pegiat energi terbarukan dan para milenial yang melek tentang permasalahan itu, Fauzi mengusulkan sebaiknya kedua capres menandatangani komitmen pengembangan energi terbarukan. Hal itu sebagai bentuk keseriusan terhadap pentingnya energi terbarukan dalam upaya meningkatkan ketahanan energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA