Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Pengamat: Maskapai Cari Tambahan Pemasukan dari Bisnis Kargo

Jumat 11 Jan 2019 05:16 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Friska Yolanda

Pekerja membersihkan ruang pengambilan bagasi di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5).

Pekerja membersihkan ruang pengambilan bagasi di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5).

Foto: Antara/M Agung Rajasa
Kebijakan bagasi berbayar adalah hal yang lumrah dilakukan maskapai LCC di Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maskapai Citilink dan Lion Air akan menerapkan kebijakan bagasi berbayar. Menurut pengamat penerbangan Alvin Lie, hal itu merupakan strategi maskapai untuk bisa meraih pendapatan di luar harga tiket pesawat. 

"Ini lebih kepada upaya meningkatkan pemanfaatan ruang dalam pesawat untuk penghasilan maskapai," kata Alvin ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (10/1). 

Dia menyampaikan, kebijakan ini adalah peluang yang bisa dimanfaatkan maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC) untuk meningkatkan penerimaan dari bisnis kargo pesawat. Pertumbuhan kargo pada 2018 melejit hingga mencapai 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan adanya kebijakan bagasi berbayar, menurut Alvin, maskapai dapat menentukan ruang bagasi yang tersisa dan dapat dijual untuk kargo. 

Dia menyampaikan, kebijakan bagasi berbayar adalah hal yang lumrah dilakukan maskapai LCC di Eropa, AS, dan Australia. Aturan tersebut juga tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Kebijakan ini sesuai dengan prinsip maskapai LCC yang hanya menjual pelayanan dasar yakni tiket kursi pesawat. 

"Penumpang yang mau memilih tempat duduk itu harus bayar. Penumpang yang ingin makan dan minum bayar," kata Alvin. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA