Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Manfaat Divestasi Freeport untuk Papua

Jumat 21 Dec 2018 13:50 WIB

Red: Gita Amanda

Pekerja memeriksa proses pengolahan biji tambang di PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Mimika, Papua.

Pekerja memeriksa proses pengolahan biji tambang di PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Mimika, Papua.

Foto: Musiron/Republika
Gabungan Inalum dan Pemda Papua akan menjadikan entitas Indonesia pengendali PTFI.

REPUBLIKA.CO.ID, MIMIKA -- Kepemilikan mayoritas entitas Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI), yang telah mengelola tambang emas dan tembaga di Kabupaten Mimika, Papua, sejak 51 tahun yang lalu, akan segera terealisasi. Holding industri pertambangan PT Inalum (Persero) akan meningkatkan kepemilikannya di PTFI dari 9,36 persen menjadi 51,2 persen, dan untuk pertama kalinya pemerintah daerah Papua akan mendapatkan alokasi saham.

Dari 100 persen saham PTFI, Pemerintah Daerah Papua (Pemda) Papua akan memiliki 10 persen, Inalum 41,2 persen dan Freeport McMoRan, perusahaan tambang Amerika Serikat, sebesar 48,8 persen. Namun gabungan antara Inalum dan Pemda Papua akan menjadikan entitas Indonesia pengendali PTFI.

Dengan memiliki saham, Pemda Papua akan mendapatkan dividen paling sedikit sebesar 100 juta dolar Amerika Serikat atau Rp 1,45 triliun per tahunnya setelah 2022. Di mana operasional PTFI akan berjalan secara normal setelah masa transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

Dari 10 persen saham Pemda Papua tersebut dibagi menjadi tujuh persen untuk Kabupaten Mimikan termasuk di dalamnya untuk hak ulayat, dan tiga persen untuk Provinsi Papua. Selain saham, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 37/2018 tentang Perlakuan Perpajakan dan atau Penerimaan Negara Bukan Pajak di Bidang Usaha Pertambangan Mineral,Pemda juga akan mendapatkan enam persen dari laba bersih PTFI.

Nantinya, enam persen tersebut akan dibagi menjadi 2,5 persen untuk Kabupaten Mimika, 2,5 persen untuk Kabupaten di luar Mimika, dan satu persen untuk Provinsi Papua. Seluruh manfaat tersebut di luar bantuan CSR  dan  community development serta pendapatan pajak daerah dan royalti.

Untuk saham Pemda Papua, Inalum akan memberikan pinjaman kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 819 juta dolar AS yang dijaminkan dengan saham tersebut. Cicilan pinjaman akan dibayarkan dengan dividen PTFI yang akan didapatkan oleh BUMD Papua. Namun dividen tersebut tidak akan digunakan sepenuhnya untuk membayar cicilan tersebut.

“Tidak ada dana dari APBD Pemda Papua yang digunakan untuk membeli saham. Cicilan dari pembelian saham akan dibayarkan melalui dividen PTFI dan tidak semuanya dipakai untuk bayar cicilan. Akan ada uang tunai yang akan didapatkan oleh Pemda setiap tahunnya,” ujar Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Inalum, Rendi A. Witular, seperti dalam siaran persnya.

Saham Pemda Papua tersebut nantinya akan dimasukan ke perusahaan khusus bernama PT Indonesia Papua Metal dan Mineral, yang 60 persen dimiliki oleh Inalum dan 40 persen dimiliki oleh Pemda melalui BUMD. “Struktur kepemilikan pemerintah daerah tersebut adalah struktur yang lazim dan sudah mempertimbangkan semua aspek termasuk aspek perpajakan yang lebih efisien bagi semua pemegang saham,” terang Rendi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA