Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Teknologi Pembangkit Listrik Perlu Ditingkatkan

Selasa 25 Sep 2018 00:14 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Satria K Yudha

Foto aerial bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Serut berkapasitas maksimal 54 megawatt di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (24/3).

Foto aerial bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Serut berkapasitas maksimal 54 megawatt di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (24/3).

Foto: ANTARA FOTO
Pemerintah diminta terus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto mengatakan, teknologi pembangkit listrik di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Dengan meningkatnya teknologi, maka pasokan listrik untuk masyarakat dapat semakin terjaga. 

Heru mengatakan, saat ini ada 65 juta rumah tangga yang menjadi pelanggan PLN. Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya. "Oleh karena itu, PLN harus terus dijaga agar tetap sehat baik secara keuangan maupun keandalan pengoperasian," kata Heru, Senin (24/9).

Heru mengatakan, teknologi pembangkit listrik sudah semakin maju. Saat ini, kata dia, ada teknologi baru seperti smart grid, big data dan AI (artificial intelligence), distributed energy resources. Selain itu, ada blockchain, cyber security. Beragam teknologi baterai juga telah mewarnai industri ketenagalistrikan.

“Kemajuan teknologi yang sangat pesat mendorong kita untuk mulai memikirkan peran PLN dan struktur pasar ketenagalistrikan di masa depan” ujar Heru.

Heru berpesan agar pemerintah serius mengembangkan energi terbarukan. Sebab, Indonesia memiliki sumber daya yang besar untuk sinar matahari, panas bumi, air, dan bio massa. 

Dalam hal energi terbarukan, peningkatan teknologi diperukan agar harga listrik dari energi terbarukan menjadi lebih terjangkau. Pemanfaatkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik pribadi sekaligus produsen listrik mendorong lahirnya era prosumer. 

Menurutnya, Indonesia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada satu lembaga untuk mencapai target EBT 23 persen pada 2025. "Diperlukan kolaborasi banyak pihak dengan memanfaatkan kemajuan teknologi," jelas Heru.

Di masa depan, jelas dia, dengan semakin murahnya baterai, akan semakin banyak mobil listrik. Dengan semakin murahnya panel surya, masyarakat bisa memilih menjual listrik yang diproduksi melalui jaringan listrik atau dikonsumsi sendiri. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA