Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Dirut PLN Sebut Tarif Listrik Bisa Turun, Kapan?

Kamis 30 Nov 2017 10:24 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nur Aini

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir

Foto: Republika/Yogi Ardhi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT PLN, Sofyan Basir mengatakan pada 2019 mendatang proyek pembangkit yang ditandatangani perjanjian jual beli listrik atau PPA pada tahun ini akan mulai beroperasi. Saat pembangkit pembangkit tersebut beroperasi ia meyakini tarif listrik bisa turun.

Sofyan mengatakan tarif bisa turun karena pembangkit yang dibangun pada dua tahun terakhir ini memiliki perjanjian harga yang murah. Jika sebelumnya harga yang ditawarkan berkisar antara 6 sen hingga 7 sen per kwh, pembangkit yang akan beroperasi di 2019 mendatang berada pada harga 4 sen hingga 5 sen per kwh.

"Ke depan saya yakin bisa turun, karena harganya cuma 4 dan 5 sen sehingga bisa menekan semua BPP (biaya pokok produksi) daerah," ujar Sofyan, Kamis (29/11).

Meski begitu, Sofyan mengatakan hingga akhir tahun nanti dan pada tahun depan PLN berupaya agar harga listrik bisa tetap. Menurutnya, PLN berusaha agar tarif listrik tidak naik, meski ia mengakui saat ini PLN berat melakukan hal itu karena komponen batu bara hampir mencapai 60 persen dari ongkos produksi.

"Jadi kalau harga batu bara bisa turun lagi, kami peluangnya masih besar lagi untuk elektrifikasi daerah timur, dan tarif nggak perlu naik," ujar Sofyan.

Sofyan mengatakan, ketika harga batu bara tak turun, maka konsekuensinya adalah laba PLN pada beberapa waktu ini memang harus turun. Tapi pilihan ini dinilainya lebih baik ketimbang harus menaikkan tarif listrik.

"Ya kita cari efisiensi, Kalau berhitung begitu kita sudah tekor besar hari ini. Tapi kan masyarakat kasian," ujar Sofyan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA