Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Empat Unicorn yang Disebut Jokowi, Siapa Saja Mereka?

Senin 18 Feb 2019 17:47 WIB

Rep: Nawir Arsyad/Umi soliha/ Red: Friska Yolanda

Capres No 01 Joko Widodo dan Capres No 02 Prabowo Subianto usai debat kedua calon presiden pemilu 2019, Jakarta, Ahad (17/2).

Capres No 01 Joko Widodo dan Capres No 02 Prabowo Subianto usai debat kedua calon presiden pemilu 2019, Jakarta, Ahad (17/2).

Foto: Republika/Prayogi
Sebuah perusahaan rintisan menyandang gelar unicorn jika valuasinya 1 juta dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam debat calon presiden kedua yang dilaksanakan pada Ahad (17/2) malam, istilah unicorn muncul dalam acara tersebut. Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menanyakan pendapat calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, terkait pengembangan unicorn.

Prabowo mengatakan, dirinya mendukung pengembangan unicorn di Indonesia. Namun, ada kekhawatiran yang timbul dari Prabowo dari munculnya perusahaan rintisan. Menurutnya, dengan berkembangnya unicorn jangan sampai membuat uang dalam negeri lari keluar negeri.

Baca Juga

"Kalau ada unicorn-unicorn ada teknologi hebat, saya khawatir ini nanti mempercepat nilai tambah dan uang uang kita lari keluar negeri. Ini yang saya khawatir, ya silakan Anda ketawa, tapi ini masalah bangsa kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia," ujar Prabowo dalam debat semalam.

Perlu diketahui, unicorn adalah istilah untuk perusahaan rintisan atau startup yang memiliki valuasi lebih dari 1 juta dolar AS. Sebelum mencapai unicorn, terdapat sejumlah tahapan pendanaan dari sisi valuasinya. Startup seri A adalah perusahaan rintisan yang memiliki valuasi 600 ribu dolar AS hingga 3 juta dolar AS.

Selanjutnya, seri B adalah tahapan lanjutan dengan valuasi pendanaan 5 juta dolar AS hingga 20 juta dolar AS dan seri C sebesar 25 juta dolar AS hingga 100 juta dolar AS. 

Saat ini, terdapat empat startup di Indonesia yang menyandang status unicorn di Asia Tenggara. Keempatnya adalah Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

1. Gojek

Pada 2010 Gojek didirikan oleh Nadiem Makariem. Empat tahun setelah didirikan, Gojek menjadi perusahaan rintis, tepatnya pada 4 Agustus 2016. Perusahaan jasa transportasi ini menyandang gelar unicorn setelah mendapat suntikan dana senilai 550 juta dolar AS dari konsorsium delapan investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug. 

Pada 4 Mei 2017 Gojek mendapatkan dana tambahan dari Tencent Holding dan JID senilai 1,2 miliar dolar AS. Total pendanaan yang dimiliki Gojek senilai 1,75 miliar dolar AS membuat Gojek unggul dari empat unicorn Indonesia dari segi pendanaan.

Selain investor dari luar negeri, Gojek pun mendapatkan gelontoran dana segar dari perusahaan-perusahaan dalam negeri, yakni PT Astra Internasional (ASII) dan PT Global Digital Niaga (GDN) yang merupakan anak usaha perusahaan modal ventura Global Digital Prima (GDP) milik Djarum Group. 

2. Traveloka

Selang satu tahun setelah Gojek menetapkan diri sebagai unicorn, pada 27 Juli 2017 layanan penjualan tiket daring, Traveloka, pun menyandang gelar tersebut. Gelar ini diperoleh setelah Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri, mengucurkan dana senilai 350 juta dolar AS.

Perusahaan yang dibangun oleh William Tanuwijaya pada 2009 dinobatkan sebagai strartup tercepat yang menyandang gelar unicorn di antara yang lainnya. Perusahaan tersebut mendapat gelar unicorn hanya dalam waktu lima tahun.

3. Tokopedia

Tokopedia adalah perusahaan e-commerce yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison. Perusahan tersebut didirikan pada 6 Februari 2009.

Tokopedia berhasil menyandang predikat unicorn pada 2017 setelah perusahaan tersebut mendapat suntikan dana dari Alibaba Group, Softbank Grup, dan Sequoia Capital.

Bahkan, pada Desember 2018, Tokopedia mendapat pendanaan dengan nilai total 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp 16 triliun. Hingga saat ini, valuasi Tokopedia diperkirakan sudah mencapai 5,9 miliar dolar AS atau setara Rp 82,6 triliun (kurs Rp 14 ribu). Bahkan, Tokopedia berhasil berada di peringkat kesembilan sebagai perusahaan unicorn dengan nilai valuasi terbesar di Asia.

4. Bukalapak

Bukalapak adalah perusahaan e-commerce yang serupa dengan Tokopedia yang memperoleh status perseroan terbatas (PT) pada 9 September 2011. Bukalapak didirikan oleh tiga orang, yaitu Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Muhamad Fajrin Rasyid.

Terdapat empat investor utama yang membuat Bukalapak meraih predikat unicorn. Keempat investor tersebut adalah Ant Financial, Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, GIC, dan Emtek Grup.

Achmad Zaky, salah satu pendiri Bukalapak mengatakan, perusahaannya sudah menyandang predikat unicorn sejak 2018. Nilai valuasi perusahaannya pernah ia ungkapkan pada saat Bukalapak berulang tahun kedelapan, di mana sudah mencapai 1 juta dolar AS atau setara Rp 14 triliun (kurs Rp 14 ribu).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA