Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Kopi Ledug dan Keistimewaan-Keistimewaannya

Ahad 17 Feb 2019 08:09 WIB

Red: Elba Damhuri

Buah ceri kopi Ledug siap dipanen.

Buah ceri kopi Ledug siap dipanen.

Foto: Mitra Karya Tani
Kopi Ledug memakai standar petik merah (ceri) untuk mendapat kualitas terbaik.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Elba Damhuri

Baca Juga

Saya berkenalan dengan kopi Ledug pada saat acara Festival Ekonomi Syariah Internasional (ISEF) 2018 di Surabaya, Jawa Timur, pada Desember akhir tahun lalu. Saat itu, usai memoderatori satu sesi diskusi tentang 'Peluang dan Tantangan Industri Halal", saya berkelilig arena ekspo dan bertemu dengan Eddy Harjanto, Direktur Marketing Mitra Karya Tani, dan Widi Prayitno, Direktur Utama Mitra Karya Tani.

Dari kedua pemilik kopi Ledug ini, saya pun mulai memahami karakter unik dari kopi ini. Keduanya bercerita tentang asal-usul hingga kelebihan-kelebihan kopi Ledug. Beberapa pertanyaan terkait kopi Ledug kemudian dilanjut melalui surat elektronik.

Kopi ledug diproduksi dari biji kopi petik merah (cerry)  yang berasal dari perkebunan rakyat di lereng Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur. Perkebunan rakyat ini terdampak uap sulfur Gunung Welirang yang sangat baik bagi sebuah cita rasa tanaman kopi. Dengan ketinggian 700-1.500 mdpl, perkebunan rakyat ini sangat cocok untuk ditanami kopi jenis robusta lokal dan arabica varietas lini S795.

photo

Petani sedang menggiling kopi Ledug.

Lahan yang dikelola kelompok tani kurang lebih 80 hektare dengan hasil panen mencapai 40-60 ton per tahun. Hasil tersebut diserap oleh kelompok tani untuk disortir menjadi kopi specialty dan diolah dengan  merek "Ledug" . Sisa sortir kopi dijual ke pasar tradisional di Kecamatan Prigen. 

Produksi per bulan berkisar 400 kg-500 kg dengan omzet Rp 15 juta sampau Rp 18 juta. Keuntungan per bulan sekitar 20 persen-25 persen dari omzet. Kopi Ledug diproduksi dengan menggunakan dana swakelola dari  kelompok tani. Dari hasil panen, petani bisa mendapatkan uang Rp 1 juta-2 juta per bulan.

Ledug adalah daerah lembah/dataran cekungan yang banyak terdampak uap sulfur, tempat asal muasal bibit kopi lokal yang paling digemari di wilayah Prigen dan sekitarnya. Dari lokasi tersebut bibit disebarkan melalui enteres, bisa dengan sambung pucuk/okulasi ke sesama petani di Prigen,  yang saat ini suda mencapai 5 desa atau hampir 50 hektare.

photo

Biji kopi Ledug sedang dijemur sebagai bagian dari proses pasca-panen.

 

Dari situlah nama Ledug diambil dan dijadikan merek dagang yang sudah dihakpatentkan atas nama kelompok tani Mitra Karya Tani. Pada 2012, Mitra Karya Tani bekerja sama dengan LIPI dan Unesa meneliti cita rasa kopi, yang hasilnya rasa kopi sangat baik akibat dampak sulfur.

Adapun kelebihan kopi Ledug ada pasa cita rasa coklat, karamel, manis, fruity (asam buah), spice, dan floral.  Juga, after taste kopi Ledug termasuk panjang alias lama.

Selain memproduksi olahan kopi, kelompok tani Mitra Karya Tani juga sedang mengerjakan wisata edukasi kopi, kelas budi daya kopi, kelas roasting kopi, dan kelas cupping kopi.

Kopi Ledug memakai standar petik merah dengan hasil uji lab cita rasa kopi oleh Puslitkoka Jember. Skor untuk jenis Arabica Luwak 82,75, sedangkan jenis kopi Luwak Robusta 83,50. Artinya, ini masuk ke dalam Specialty Grade.

Untuk Arabica Specialty Ledug bercita rasa herbal, moka, karamel, dengan rasa buah stroberi hutan. Untuk cita rasa Robusta Specialty Ledug, coklat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA