Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Kopi Ledug Berderap Membanjiri Pasar Internasional

Ahad 17 Feb 2019 07:09 WIB

Red: Elba Damhuri

Buah ceri kopi Ledug yang siap dipanen di kebun kopi di Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur.

Buah ceri kopi Ledug yang siap dipanen di kebun kopi di Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur.

Foto: Mitra Karya Tani
Kopi Ledug memiliki prospek bisnis ke depan yang menjanjikan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Elba Damhuri

Bagi yang pernah singgah di Pasuruan, Jawa Timur, tentu sangat mengenal Kopi Ledug. Kopi Ledug saat ini sedang naik daun dengan cita rasa earthy (rasa moka, coklat, cenderung manis) dan fruity (lemon, asam, buah-buahan, floral).

Direktur Marketing kelompok tani Mitra Karya Tani, Eddy Harjanto, mengatakan kopi  Ledug ditanam di ketingian 700-1.500 mdpl (meter dari permukaan laut) di cekungan Gunung Welirang, Pasuruan.  "Rasa specialty kopi ledug adalah moka, manis , fruity, spice, dan floral," kata Eddy dalam perbincangan dengan Republika, pekan ini.

Ada lima jenis kopi yang ditanam kelompok tani Mitra Karya Tani ini, yaitu arabica 20 persen , robusta 75 persen, dan jenis  exelsa 5 persen.  Jenis kopi yang diolah kelompok tani sementara ini hanya kopi arabica dan robusta.

Baca Juga

photo
Buah ceri kopi Ledug dijemur sebagai bagian dari proses pasca-panen.


Sejarah kopi di lereng Welirang, kata Eddy, adalah perkebunan kopi milik Belanda, yang diteruskan oleh masyarakat di sekitar perkebunan melalui kerja sama dengan Perhutani,. Namun, kata Eddy, ada persoalan serius terkait dengan kesejahteraan petani kopi.

Pada 2009, Eddy bercerita, salah satu pendiri kelompok tani kopi Ledug, Widi Prayitno, ingin mengubah kondisi yang kurang baik ini menjadi jauh lebih baik. "Intinya, Pak Widi mengajak petani agar memperbaiki keadaan supaya taraf hidup petani lebih sejahtera dan keluar dari lingkaran hidup miskin," kata Eddy.

Widi Prayitno sekarang menjadi Direktur Utama Mitra Karya Tani, yang beranggotakan 22 petani dengan mengelola 20 hektare lahan. Dengan modal semangat, Widi dan teman teman kelompok tani Mulyorejo kala itu bersepakat untuk bisa mengolah sendiri biji kopi mentah menjadi kopi siap saji.

photo
Kebun kopi Ledug di Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur.


Dengan begitu, nilai atau harga kopi menjadi naik dari biasanya. Kesejahteraan petani pun mulai berubah. Pendapatan mereka naik lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya menjual hasil panen tanpa mengolah terlebih dahulu.

Eddy sendiri mengaku bertemu Widi pada awal 2017 dan menyatakan pemasaran kopi Ledug harus lebih di tingkatkan pada level nasional dan internasional. Ternyata, visi dan misi Eddy dengan Widi sama, yakni ingin memajukan taraf hidup petani dan menjadikan kopi Ledug Gunung Welirang "Go International:.

Kemudian muncul ide Wisata Edukasi Kopi yang digagas bersama Widi dan Iksir Imanuel, Kepala Cabang Auto 2000 Kertajaya, pada waktu itu. Melalui komunitas otomotif Toyota dari beberapa tipe program berwisata kopi sekaligus 'ngopi' dan langsung bertemu masyarakat petani kopi dimulai.

photo
Dirut Mitra Karya Tani, Widi Prayitno, sedang berdiri di kebun kopi Ledug.


Promosi wisata dimulai dengan even Komunitas Innova Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, di mana mereka berwisata sambil menikmati kopi dan pemandangan indah air terjun di daerah lereng Gunung Welirang. Eddy mengatakan, kegiatan kemudian berlanjut dengan Bank BNI pusat untuk edukasi kopi plus wisata.

"Dari sini berkembang kopi Ledug makin dikenal," kata Eddy.

Pada akhir 2017, manajemen kopi Ledug ikut pameran di Jakarta yang kemudian ini menjadi pintu gerbang masuk pasar Jabodetabek.  Di even, Eddy mengaku berkenalan dengan pilot senior Garuda Indonesia yang membawa kopi Ledug ke bazar Garuda Indonesia. Kemudia, mereka imut pameran di Bengkulu Pada awal Maret 2018 dengan dukungan Disperindag Jatim.

Pada satu momentum, Eddy memaparkan, dirinya dipertemukan oleh dosen di Universitas Al Azhar Jakarta dengan Atase pendidikan dan kebudayaan KBRI di Arab Saudi. Pejabat KBRI ini meminta kopi Ledug untuk ikut pameran internasional terutama di Arab Saudi. Namun karena waktu yang mepet saat itu, Eddy mengatakan kopi Ledug tidak bisa berangkat ke Saudi.

photo
Direktur Marketing Mitra Karya Tani, Eddy Harjanto, paling kanan.


"Ekspor menjadi tujuan kami makanya kami ingin mengikuti pameran-pameran di luar negeri," kata Eddy.

Saat ini, kelompok tani Mitra Karya Tani menjadi UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Malang, Jawa Timur.  Pada beberapa kesempatan acara besar, Eddy menjelaskan BI selalu mengajak kopi Ledug hadir termasuk saat acara Konferensi Ekonomi Syariah di Surabaya pada akhir tahun 2018 di Surabaya.

Dirut Mitra Karya Tani Widi Prayitno pun menegaskan keinginan kopi Ledug untuk 'Go International'. Menurut Widi, prospek bisnis kopi Ledug ke depan adalah membidik pasar ekspor dengan produk kopi luwak atau kopi langka dari Indonesia.

Langka karena jenis kopi Ledug termasuk yang tidak banyak ditemui di Indonesia. Widi menyatakan tidak banyak kopi dari Indonesia yang kebunnya terdampak uap sulfur seperti kopi Ledug.

Pangsa pasar kopi Ledug saat ini kafe-kafe di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Kediri, Mojokerto, dan Bali. Untuk paket penjualan ke luar negeri, Widi menyebut kopi Ledug sudah mengisi kafe-kafe di Jepang, Korea, Italia, Belanda, dan Taiwan.

photo
Pamflet kopi Ledug.

 

Pendampingan dari BI Malang, kata Widi, yang membuat mereka bisa masuk ke pasar-pasar luar negeri yang memang senang kopi. Juga, dampak pendampingan ini terasa saat kelompok tani ini mengikuti pameran-pameran untuk mempromosikan produk kopi mereka.

Eddy menambahkan prospek kopi Ledug sangat menjanjikan di masa depan karena beberapa alasan. Ia merinci, ada faktor keunikan rasa dan uap sulfur, ditambah dengan lahan yang kecil menjadikan kopi ini banyak dicari orang.

Dengan lahan yang kecil dan produksi yang tidak besar, ini menjadi nilai tambah ekspor. Kata Eddy, ada unsur ekslusivitas di dalamnya.

"Saya membantu memperkenalkan kopi ini ke pasar Taiwan, Eropa seperti ke Italia, Belanda, dan Slovakia. Ke depan saya dan teman teman petani berharap masuk pasar Amerika dan Afrika," kata Eddy.

photo
Luwak sedang mengunyah biji kopi yang berwarna merah (ceri) di kebun kopi Ledug, Pasuruan, Jawa Timur.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA