Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Cirebon Power Tekan Emisi PLTU

Selasa 12 Feb 2019 23:45 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Satria K Yudha

Warga sekitar melihat PLTU Cirebon.

Warga sekitar melihat PLTU Cirebon.

Foto: Antara
Emisi pembangkit Cirebon Power jauh di bawah ambang batas pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan pembangkit listrik Cirebon Power menerima penghargaan “The Green Era Award for Sustainability” dari lembaga internasional Otherways’ Management & Consulting Association di Lisbon, Portugal. Cirebon Power dinilai berhasil menjadi pelopor energi bersih di Indonesia. 

Penghargaan The Green Era Award for Sustainability diberikan kepada perusahaan, lembaga dan perorangan yang dipilih oleh juri untuk pencapaian kebersihan lingkungan, inovasi, kualitas dan teknologi serta praktik industri yang berkelanjutan.

Presiden Direktur Cirebon Power Heru Dewanto mengatakan, penghargaan tersebut memacu perusahaan untuk meningkatkan kualitas energi bersih dari pengoperasian PLTU. 

“Kami berkomitmen terhadap green sustainability. Karena itu sejak awal kami memastikan jadi pelopor teknologi batu bara bersih, dan menerapkan berbagai fasilitas canggih untuk menekan emisi dan efek gas rumah kaca hingga level terendah," kata Heru, Selasa (12/2). 

Heru mengatakan, Cirebon Power juga akan menggunakan teknologi mutakhir dan siap menjadi pilot project industri 4.0. Program ini dalam rangka menyambut tujuan pemerintah untuk menciptakan industri digitalisasi. 

Dia menjelaskan, emisi pembangkit Cirebon Power jauh di bawah ambang batas pemerintah. Bahkan, kata dia, Cirebon Power berada di posisi puncak dari seluruh pembangkit ramah lingkungan. "Kami juga berhasil menekan gas rumah kaca selalu di bawah 1.00 kg CO2 eq / KWh yang ditentukan sebagai nilai optimal dalam industri pembangkitan listrik. " ungkap Heru. 

Dalam menjalankan green sustainability, Cirebon Power melibatkan masyarakat sekitar pembangkit. Menurut Heru, pemberdayaan masyarakat tak hanya sekedar tanggung jawab sosial, namun juga upaya untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar pembangkit.

“Kami mendukung lebih dari 1000 usaha mikro dan usaha kecil untuk berkembang, dan menggandeng nelayan serta warga pecinta lingkungan untuk menghijaukan pesisir Cirebon. Di sektor pendidikan, kami menggagas vokasi ketenagalistrikan pertama untuk mencetak tenaga terampil, serta mendorong semangat belajar belasan ribu siswa sekolah dasar” tutur Heru. 

Cirebon Power merupakan konsorsium pengembang pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi batu bara bersih di Indonesia, dengan mengoperasikan PLTU Cirebon berkapasitas 660 MW sejak 2012. Pembangkit yang paling awal menerapkan teknologi super critical ini, memproduksi 5 TWh listrik setiap tahunnya atau setara dengan daya listrik bagi satu juta rumah. 

Perusahaan itu juga sedang embangun pembangkit kedua dengan kapasitas 1.000 MW. Pembangkit yang ditargetkan beroperasi pada 2022 itu, akan menggunakan teknologi yang lebih maju dan bersih, yaitu Ultra Super Critical. Proses pembangunan pembangkit itu kini telah mencapai 24 persen dan ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2022 untuk memperkuat suplai listrik di Grid Jawa-Madura-Bali (Jamali).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA