Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Kemenperin Optimistis Ekspor TPT Naik 11 Persen

Selasa 12 Feb 2019 14:30 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)

Pabrik tekstil di Indonesia (Ilustrasi)

Foto: KBRI Roma
Ekspor TPT pada 2018 naik 5,6 persen dibanding tahun 2017

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis terjadi peningkatan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sampai dengan 15 miliar dolar AS sampai akhir tahun. Jumlah tersebut naik sekitar 11 persen dari ekspor TPT pada tahun lalu yang diproyeksi Kemenperin mencapai 13,28 miliar dolar AS.

Guna mencapai target tersebut, pemerintah siap memberikan kemudahan fasilitas kepada perusahaan yang mampu meningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Saat ini, pemerintah tengah mengidentifikasi industri yang masuk dalam kategori itu.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, fasilitas tersebut di antaranya untuk mendapatkan mesin dan barang modal yang lebih cepat. "Kemudian, jaminan akses terhadap ketersediaan bahan baku," katanya dalam rilis yang diterima Republika, Selasa (12/2).

Seiring menggenjot produktivitas industri TPT, Airlangga menambahkan, Kementerian Perindustrian juga melakukan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Khususnya melalui program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Upaya ini sebagai salah satu wujud nyata untuk membangun SDM yang kompeten, sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

Sebelumnya, Kemenperin telah mengusulkan mengenai penerapan skema insentif fiskal berupa super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100 persen. Fasilitas ini akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi.

Menurut Airlangga, usulan skema dari pemerintah adalah pengurangan pajak bagi industri yang terlibat dalam pelatihan dan pendidikan vokasi sebesar 200 persen. "Sedangkan, bagi industri yang melakukan kegiatan litbang atau inovasi sebesar 300 persen," ujarnya.

Kemenperin mencatat, industri TPT memiliki prestasi baik. Pencapaian ekspor pada 2018 naik 5,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Industri TPT nasional mampu memberikan share ekspor dunia sebesar 1,6 persen.

Bahkan, industri TPT menunjukkan kinerja gemilang sepanjang tahun 2018, dengan pertumbuhan sebesar 8,73 persen. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,17 persen. "Hingga saat ini, industri TPT di dalam negeri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Ini menunjukkan industri TPT merupakan sektor padat karya," ucap Airlangga.

Berdasarkan Making Indonesia 4.0, industri TPT merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat. Aspirasi besarnya, menjadikan produsen TPT nasional masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.

Airlangga meyakini, industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global karena telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini didorong lantaran struktur industrinya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

Beberapa langkah strategis telah disiapkan agar industri TPT nasional bisa memasuki era digital. Misalnya, selama tiga hingga lima tahun ke depan, Kemenperin fokus mendongkrak kemampuan di sektor hulu untuk meningkatkan produksi serat sintetis. Upaya yang dilakukan, antara lain menjalin kerja sama atau menarik investasi perusahaan penghasil serat berkualitas.

Saat ini, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk memperluas pasar ekspor TPT lokal. Sebab, produk TPT negara tetangga seperti Vietnam bisa masuk ke pasar Amerika dan Uni Eropa dengan tarif bea masuk nol persen, sedangkan bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20 persen.

Salah satu perusahaan TPT yang diharapkan Airlangga dapat membantu target pemerintah adalah PT Sukorintex. Ia berharap, perusahaan dapat melakukan investasi tambahan dan menciptakan inovasi dalam meningkatkan kualitas produk yang dapat menjadi andalan nasional.

PT Sukorintex adalah perusahaan tekstil yang fokus dalam memproduksi sarung tenun dengan brand image yang kuat yaitu Wadimor. PT Sukorintex mampu memproduksi sarung tenun sebanyak 25,2 juta lembar per tahun. Saat ini, pabrik telah menyerap tenaga kerja lebih dari 3.000 orang, yang 85 persen berasal dari masyarakat sekitar perusahaan di Kabupaten Batang.

Direktur Sukorintex Taher Ba’agil mengatakan, perusahaan mencatatkan pertumbuhan penjualan mencapai 30 persen sepanjang 2018 dan diperkirakan meningkat pada tahun ini seiring dengan pengembangan inovasi produk. "Melalui warna yang beragam dan corak baru, memengaruhi permintaan produk Wadimor yang cukup signifikan," ujarnya.

Saat ini, hampir 75 persen produk Wadimor diserap di dalam negeri. Sisanya, diekspor ke sejumlah negara termasuk Malaysia, Dubai, Yaman, Afghanistan. dan Myanmar.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA