Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Wisata, Kebutuhan Masyarakat Semua Kelas

Kamis 24 Jan 2019 07:40 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda

Wisatawan memberi makan ikan-ikan di mata air Umbul Senjoyo, Desa Tegalwaton, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/12/2018).

Wisatawan memberi makan ikan-ikan di mata air Umbul Senjoyo, Desa Tegalwaton, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/12/2018).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Masyarakat cenderung membeli pengalaman daripada barang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vice President Brand and Communication Panorama Group AB Sadewa mengatakan, peningkatan prioritas masyarakat untuk wisata sudah terjadi sejak lima tahun terakhir. Wisata tidak sekadar dianggap keinginan, melainkan kebutuhan. Dua penyebab utamanya adalah terjadi peningkatan ekonomi middle class atau masyarakat kelas menengah dan digitalisasi. 

Masyarakat kelas menengah kini tidak lagi mengejar produk konsumsi. Setelah membeli hal basic seperti rumah dan mobil, mereka fokus pada pencapaian aktualisasi diri yang dapat diwujudkan melalui wisata. "Mereka jalan-jalan, foto dan share ke media sosial," ujar Sadewa saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (23/1). 

Namun, Sadewa mengatakan, rata-rata kebutuhan leisure sebenarnya tidak terjadi di kalangan tertentu. Semua kelas sudah menjadikan wisata sebagai bagian dari gaya hidup. Hanya saja, perbedaan mereka terletak pada tujuan atau destinasi wisata. 

Kelas menengah ke bawah, cenderung memilih destinasi domestik dengan jarak pendek. Sadewa memberikan contoh, baby sitter kerap jalan-jalan ke Bogor pada akhir pekan. Sementara itu, untuk kelas menengah biasanya lebih jauh atau intercity, yakni ke Bali atau Lombok. "Kelas high end, ke luar negeri seperti Singapura," ujarnya. 

photo

Sejumlah pengunjung menyaksikan matahari terbit pertama tahun 2019 di Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Selasa (1/1/2019).

Berbicara wisata, kini masyarakat sudah mengaitkannya dengan kepercayaan diri. Dengan jalan-jalan dan mendapat pengalaman baru, penilaian orang lain terhadap seseorang dianggap lebih baik dan tinggi. Oleh karena itu, Sadewa menjelaskan, semakin banyak orang yang memilih ‘membeli’ pengalaman dengan berwisata dibandingkan membeli produk fisik seperti baju dan sepatu.

Pandangan wisata sebagai kebutuhan, diakui Sadewa, memberi tantangan besar bagi agen perjalanan seperti Panorama. Di tengah ‘gempuran’ online travel agent dan aplikasinya, mereka harus mengembankan bisnis supaya tidak mati atau tergilas. 

Salah satu cara yang dilakukan adalah digitalisasi cara kerja mereka seperti inventory dan proses bisnis, tanpa harus punya aplikasi.  "Tantangan kita saat ini adalah positioning, menciptakan persepsi bahwa ketika orang mau jalan-jalan, langsung terpikirkan brand kita," ujar Sadewa. 

Di sisi lain, seiring dengan wisata yang menjadi sebuah kebutuhan, menyebabkan destinasi domestik semakin beragam. Apabila dulu wisata dalam negeri identik dengan Bali, kini wisatawan sudah eksplorasi ke tempat lain. Misalnya, Labuan Bajo di NTT, Pulau Cinta di Gorontalo dan Raja Ampat di Papua.

Tidak hanya di luar Jawa, Sadewa mengatakan, keragaman destinasi juga terjadi di Pulau Jawa. Warga Jakarta, misalnya, tidak hanya bermain di Bandung dan sekitarnya, melainkan ke Banyuwangi dan Baluran. "Infrastruktur dan airlines sudah banyak perubahan yang semakin mendorong tren ini," katanya. 

photo

Sejumlah wisatawan berendam di kolam air panas Toya Devasya di kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Sabtu (29/12/2018).

Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan, peningkatan prioritas masyarakat terhadap wisata harus ditanggapi pemerintah dan industri dengan terus melakukan perbaikan. Termasuk, terhadap harga tiket pesawat yang merupakan salah satu komponen pendukung pariwisata. 

Saat ini, Asnawi menjelaskan, harga tiket pesawat seperti tengah mengalami anomali. Sebab, tiket ke luar negeri justru lebih mahal dibandingkan ke destinasi dalam negeri. "Kalau dibiarkan terus, devisa jadi terancam," ujarnya. 

Ancaman tersebut semakin nyata dengan biaya hidup di ASEAN yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Dampaknya, masyarakat akan semakin berbondong-bondong memilih liburan di luar negeri. Padahal, menurut Asnawi, destinasi wisata dosmetik tengah berkembang. 

Asnawi memprediksi, jumlah wisatawan Indonesia yang pergi ke luar negeri atau outbound dapat mencapai 10 juta orang. Jumlah tersebut meningkat dibanding dengan 2018 yang mencapai lebih dari 7 juta orang dan 9 juta orang pada 2017. 

photo

Menteri Pariwisata Arief Yahya saat diwawancarai Republika di Gedung Kemenpr, Jakarta, Kamis (3/1).

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya menargetkan pertambahan devisa 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 292 triliun pada 2019. Nominal ini akan membuat pariwisata menjadi industri penyumbang devisa terbesar terhadap pendapatan Indonesia, melampaui industri kelapa sawit.

Devisa tersebut didapatkan dari target 20 juta wisatawan mancanegara yang akan tercapai pada tahun ini. Arief mengatakan, salah satu faktor pendukungnya adalah pengembangan border tourism atau pariwisata perbatasan yang diyakininya dapat menjadi destinasi potensial.

"Tahun ini, ditargetkan 40 persen dari wisman harus dari border. Artinya, dari 20 juta, sekitar 8 juta dari border tourism," kata Arief saat ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES