Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Jonan Minta Produksi Becak Listrik Diperbanyak

Sabtu 19 Jan 2019 19:15 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Andi Nur Aminah

Becak listrik.

Becak listrik.

Foto: Neni Ridarineni.
Kendaraan listrik akan mengurangi polusi dan tentunya lebih ramah lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semakin majunya teknologi kendaraan listrik, pemanfaatannya pun dapat diaplikasikan pada kendaraan konvensional yang telah ada. Hal ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat melaunching Becak Listrik hasil kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT PLN (Persero).

"Yang penting itu adalah yang mengoperasikan becaknya. Zaman segini masak masih ada yang ngayuh becak, itu tidak manusiawi," jelas Jonan, Sabtu (19/1).

Kendaraan listrik lanjut Jonan, akan mengurangi polusi dan tentunya lebih ramah lingkungan. "Ini supaya polusi itu bisa ditekan, memang listrik yang dihasilkan sebagian dari pembangkit batubara, tapi tidak akan melebihi combustion engine, mesin kendaraan," kata Jonan.

Pembuatan becak listrik ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan diproduksi lebih banyak. Dari sisi ekonomi, becak listrik juga dapat menjadi menjadi daya tarik pariwisata.

"Saya menganjurkan setelah pembuatan becak listrik dilanjutkan dengan bekerjasama dengan industri kita supaya bisa diproduksi lebih banyak lagi. Saya yakin bapak Gubernur DIY atau Bapak-Bapak Gubenur yang lain itu akan membuat regulasi supaya becak listrik ini berjalan, karena bisa dimanfaatkan untuk pariwisata dan tidak akan menghapus lapangan kerja yang telah ada. Jadi becak listrik ini selain lebih manusia dan juga soal lingkungan," jelas Jonan.

Jonan juga mengungkapkan bahwa perkembangan terbaru regulasi terkait kendaraan listrik yang saat ini masuk pada tahap finalisasi.

"//Update terakhir terkait penyusunan peraturan kendaraan listrik, sebentar lagi akan difinalkan dengan adanya insentif kalau kita membangun industri mobil listrik di Indonesia, dengan harapan bahwa harga mobil listriknya akan bisa terjangaku atau paling tidak bisa bersaing dengan kendaraan konvensional. Selain itu juga mengatur insentif industri, bea masuk, pajak-pajak juga mengatur mengenai kapasitasnya berapa dan targetnya apa dan sebagainya," ungkap Jonan.

Sebelumnya, Menteri ESDM juga menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ESDM dengan UGM tentang Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat di Sektor ESDM .

Jonan mengapresiasi inisiatif UGM untuk membangun kerja sama dengan Badan Litbang ESDM. Menurutnya, dunia kampus perlu bersinergi dengan Kementerian dan lembaga dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Nota kesepahaman ini diharapkan bisa segera terealisasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan nyata dan berguna untuk kehidupan masyarakat.

"Jangan sampai nota kesepahaman ini tanpa hasil, apa yang direncanakan, segera wujudkan," tegas Jonan.

Rektor UGM, Panut Mulyono menyampaikan ucapan terima kasih kepada Menteri ESDM yang telah memberi kesempatan untuk dapat bekerjasama di sektor ESDM. "Terima kasih atas peran serta kementerian ESDM bisa mendorong penelitian-penelitian kampus dalam mengembangkan EBT dan dunia Migas," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA