Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

'Lebih Mahal Tarif Bagasi daripada Suvenir'

Jumat 11 Jan 2019 13:27 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Friska Yolanda

Toko oleh-oleh (ilustrasi)

Toko oleh-oleh (ilustrasi)

Foto: REPUBLIKA
Wisatawan akan urung membawa oleh-oleh dalam jumlah besar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Naik pesawat tak bebas seperti dulu lagi. Penumpang harus berpikir ulang bila hendak membawa barang dalam kapasitas besar. Pengenaan tarif bagasi menambah beban bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Usaha keripik pisang aneka rasa di Jalan Pagaralam atau biasa disebut Gang PU terdampak dari penerapan tarif bagasi. Selama ini, pembeli paket oleh-oleh keripik pisang sudah menurun karena krisis, ditambah lagi adanya pengenaan tarif bagasi. Penjaja kripik pisang sepanjang Gang PU tersebut sangat mendambakan pengunjung dari luar Lampung.

“Usaha kami selama ini mengandalkan pembeli luar Lampung, karena jumlahnya banyak. Kalau dalam kota sangat jarang sekali, atau mereka membeli untuk mengirim ke tempat lain atau oleh-oleh untuk saudaranya atau tamunya,” tutur Iwan, pemilik toko keripik pisang di Gang PU, Kamis (10/1).

Menurut dia, pemberlakuan tarif bagasi pesawat bagi penumpang, jelas berpengaruh dengan pembelian pengunjung di Kampung Keripik di Gang PU. Tempat oleh-oleh kripik pisang ternama Kota Bandar Lampung tersebut, akan kehilangan pelanggan yang dibawa oleh pihak agen perjalanan.

Ia mengatakan, sudah pasti pembeli tidak akan membawa barang yang banyak setelah berkunjung ke Lampung. Pasalnya, tarif yang diberlakukan akan lebih mahal biayanya dibandingkan dengan harga barang oleh-oleh yang dibeli.

“Ini sudah pasti, tidak lagi banyak-banyak yang beli. Tarif bagasi lebih mahal dari harga barang. Jadi, kami yang rugi,” ujarnya.

Hal yang sama dialami kerajinan kain tapis dan batik di Lampung. Biasanya, pembeli melakukan kunjungan bersama dengan mobil dan bus. Belakangan jumlah kunjungan mulai berkurang. Hal tersebut sudah terjadi jauh sebelum pemberlakuan tarif bagasi.

“Kalau bagasi tidak gratis lagi, pasti lebih sepi lagi. Siapa yang mau beli kain, baju, dalam jumlah besar,” tutur Yuni, pengelola batik di Kemiling.

Biasanya, tutur dia, kunjungan orang-orang penting dalam sebuah instansi atau perusahaan dari luar Lampung ke tokonya melakukan pembelian dengan jumlah yang besar. Bila sudah ada pembatasan atau pengenaan tarif bagasi, pembeli barang akan berkurang drastis, pasalnya nak pesawat dikenakan tarif bagasi, yang biayanya melebihi harga barangnya.

Sekretaris DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Provinsi Lampung Adi Susanto mengatakan sudah memperhitungkan akan terjadi dampak yang signifikan penerapan biaya bagasi semua maskapai penerbangan tersebut.

“Justru nantinya akan mematikan usaha UMKM, juga usaha agen perjalanan,” ujar Adi Susanto kepada Republika.co.id di Bandar Lampung, Kamis (10/1).

Menurut dia, paket wisata yang ditawarkan anggota Asita sudah jelas biayanya, tidak mungkin lagi untuk dinaikkan secara sepihak. Agenda pelanggan sudah pasti akan membeli oleh-oleh di daerah tertentu, tapi terpaksa berpikir ulang karena harus bayar bagasi.

“Kalau tarif bagasi mahal dari harga barang, wisatawan tidak mau beli oleh-oleh banyak,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA