Minggu, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 Januari 2019

Minggu, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 Januari 2019

Ekspor Industri Furnitur Ditargetkan Capai 5 Miliar Dolar AS

Jumat 11 Jan 2019 08:40 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pameran Furnitur

Pameran Furnitur

Foto: Republika/Wihdan
Neraca perdagangan produk furnitur surplus pada tahun lalu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis dalam menopang perekonomian nasional. Sebab, sifatnya yang padat karya dan berorientasi ekspor.

Kemenperin mencatat, pada periode Januari-Oktober 2018, neraca perdagangan produk furnitur nasional surplus sebesar 99,1 juta dolar AS dengan nilai ekspor menembus hingga 1,4 miliar dolar AS. Capaian ini mengalami kenaikan 4,83 persen dari periode yang sama di tahun 2017.

Airlangga mengatakan, pihaknya. bertekad untuk terus memacu kinerja ekspor furnitur. "Apalagi dengan potensi bahan baku yang dimiliki, mengingat Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang memiliki hutan terluas di dunia dengan 46,46 persen wilayah Indonesia merupakan kawasan perhutanan," tuturnya dalam rilis yang diterima Republika, Kamis (10/1).

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi industri furniture nasional melalui beberapa kebijakan. Di antaranya melalui program bimbingan teknis produksi, fasilitasi SVLK, promosi dan pengembangan akses pasar.

Selain itu didukung penyiapan SDM industri furnitur kompeten melalui pembangunan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah yang diresmikan kemarin.

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu basis industri furnitur yang mampu menyumbang hingga 57 persen dari total ekspor furnitur nasional. "Dengan target peningkatan ekspor nasional mencapai 5 miliar dolar AS, diperkirakan kebutuhan tenaga kerja furniture khususnya di Jawa Tengah meningkat sebanyak 101.346 orang dalam dua tahun ke depan," kata Airlangga.

Keberadaan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu diharapkan bisa menjawab tantangan perkembangan industri dan tren pasar furnitur sekarang. Apalagi, menurut Airlangga, industri furniture merupakan sektor yang berbasis pada lifestyle.

Peresmian politeknik ini juga dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi dan Keterampilan Singapura Ong Ye Kung, Duta Besar Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar, Bupati Kendal Mirna Annisa, serta Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Dito Ganinduto.

Di politeknik, diterapkan sistem ganda atau 70 persen praktik dan 30 persen teori. "Konsep dual system yang dikembangkan Swiss tersebut, diyakini akan menghasilkan lulusan yang benar-benar sesuai kebutuhan masa depan, terutama dalam memasuki era industri 4.0," ujar Airlangga.

Dalam laporannya, Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar menyampaikan, pembangunan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu ini merupakan salah satu tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Menperin Airlangga dan Ong Ye Kung dalam kegiatan Leader’s Retreat pada peringatan 50 tahun hubungan diplomatik RI-Singapura.

Politeknik ini didirikan dengan tiga tujuan. Pertama, mendorong pertumbuhan investasi industri melalui penyediaan tenaga kerja industri lokal yang kompeten. "Selanjutnya, memberdayakan SDM di wilayah setempat dan sekitarnya untuk menjadi tenaga kerja industri, serta sebagai pusat inovasi, penelitian dan pengembangan Industri furnitur di Tanah Air," utur Haris.

Sementara itu, Ong menyampaikan, Singapura dan Indonesia menikmati hubungan erat di setiap tingkatan, baik di tingkat pemerintah, lembaga dan masyarakatnya. Dengan kerja sama yang luas, ia berharap dapat menciptakan kesempatan saling menguntungkan di banyak bidang..

Ong menambahkan, pihaknya mengapresiasi langkah Kemenperin dalam membangun Politeknik Industri Furnitur untuk mendukung pengembangan KIK. Ini pun memberikan kesempatan baik untuk pelatihan bagi masyarakat Indonesia dan mendorong peningkatan investasi yang ada di dalam KIK.

"Kami akan senang memberikan dukungan untuk pengembangan kurikulum potensial KIK dengan membina kerja sama antara lembaga pembelajaran di antara kedua negara," kata Ong.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES