Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Kamis, 14 Rajab 1440 / 21 Maret 2019

Ini Evaluasi Menhub terhadap Tol Laut

Ahad 09 Des 2018 19:00 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Kapal TNI Angkatan Laut Ahmad Yani Merapat di pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Kapal TNI Angkatan Laut Ahmad Yani Merapat di pelabuhan Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Foto: republika/fakhtar khairon lubis
Fokus berikutnya adalah komoditas yang dikirimkan melalui tol laut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai, keberadaan tol laut banyak membantu dan meningkatkan ketersediaan barang-barang di Indonesia bagian Timur. Dampak ini dilihat melalui evaluasi rutin yang dilakukan pemerintah bersama pemangku kepentingan lain. 

Budi menjelaskan, satu hal yang selalu menjadi fokus adalah muatan balik. Apabila dapat terus ditingkatkan, berarti efisiensi dapat tercapai secara maksimal.

"Sebab, dia (kapal) tidak menanggung ongkos lebih besar. Nah, evaluasi ini kami lakukan terus," ujarnya di Jakarta, Ahad (9/12).

Fokus berikutnya adalah komoditas yang dikirimkan melalui tol laut. Budi mengatakan, barang yang diprioritaskan adalah bersifat pokok, masif dan dapat langsung ke pabrikan, misalnya, semen, beras, gula dan minyak goreng.

Untuk pengembangannya, Budi meminta kepada pihak penelitian dan pengembangan (litbang) menggunakan platform online sebagai media berjualan. Platform itu seperti dagang elektronik yang menjual barang secara bervariasi.

Dengan sistem daring, rantai pasokan diharapkan dapat berkurang karena konsumen tidak perlu lagi membeli barang di tempat berbeda. "Kalau itu terjadi, harga bisa lebih kompetitif," tutur Budi.

Selain itu, Budi juga meminta kepada BUMN atau Pelni untuk membuat rumah-rumah logistik. Dengan begitu, komoditas yang dibawa melalui tol laut dapat tertampung secara baik. Kualitas barang pun bisa lebih terjamin dengan gudang yang memenuhi kriteria.

Budi menjelaskan, pihaknya juga akan memaksimalkan pengiriman balik ke Jakarta dengan menyewa river container. Fasilitas ini memungkinkan adanya satu atau dua komoditas utama yang kembali ke Jakarta.

"Misal, kita bawa daging ayam ke Timur, dari sana lalu bawa ikan. Kami sudah sewa kontainer banyak ke pengelola kapal," ujarnya.

Budi memastikan, upaya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah untuk mengurangi harga. Ia meminta pengelola kapal untuk memaksimalkan fasilitas yang ada untuk menjadi bagian dari usaha mereka. Sebab, pengembangan industri pelayaran memang harus ditopang dengan pengiriman barang, tidak sekadar penumpang.

Melalui pola saat ini, Budi berharap Pelni dan ASDP memiliki sisi lain yang dapat mereka kerjakan. "Jadinya, ini bisa menyeimbangkan income mereka dan dengan itu, distribusi kita lebih rata," katanya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA