Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Harga Telur Ayam di Indramayu Melonjak

Kamis 06 Dec 2018 22:41 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

harga telur naik (ilustrasi)

harga telur naik (ilustrasi)

Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Kenaikan harga telur kerap terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Harga telur ayam di pasar tradisional di Kabupaten Indramayu, semakin melambung.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id di Pasar Baru Indramayu, Kamis (6/12), harga telur ayam saat ini ada di kisaran Rp 25.500 – Rp 26 ribu per kilogram. Bahkan, di warung-warung pengecer, harga telur ayam sudah mencapai Rp 27 ribu per kilogram. Harga itu naik dibandingkan Ahad (2/12). Saat itu, harga telur ayam mencapai Rp 24 ribu – Rp 25 ribu per kilogram.

‘’Dalam minggu ini harga telur naik dengan cepat,’’ ujar seorang pedagang telur ayam di pasar tersebut, Damin.

Menurut Damin, harga telur itu mulai mengalami kenaikan secara bertahap dalam sebulan terakhir. Semula, harga telur di pasaran hanya di kisaran Rp 20 ribu per kilogram.

Damin mengatakan, kenaikan harga itu sudah terjadi di tingkat agen. Menurut informasi dari agennya, kenaikan harga tersebut sudah berasal dari peternaknya.

Damin menjelaskan, kenaikan harga telur ayam memang biasa terjadi setiap menjelang Natal dan Tahun Baru. Hal itu disebabkan tingginya permintaan menjelang dua momen tersebut.

Menurutnya, kenaikan harga telur ayam itu mulai berpengaruh terhadap omzet penjualannya. Para konsumennya mengurangi pembelian mereka, kecuali pelanggannya yang memang merupakan pedagang masakan.

‘’Yang jelas mereka pada protes. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak ikut menaikkan harga, saya akan rugi,’’ tutur Damin.

Salah seorang penjual masakan di Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu, Wati, menuturkan, kenaikan harga telur ayam itu sangat memberatkannya. Pasalnya, modal yang harus dikeluarkannya semakin besar.

Wati mengaku tidak memiliki pilihan lain kecuali menaikkan harga jual masakan telurnya. Pasalnya, telur tidak bisa diperkecil seperti halnya tempe saat harganya mengalami kenaikan.

"Tapi saya hanya bisa menaikkan harga sedikit supaya pelanggan tidak lari. Walau akibatnya keuntungan saya jadi berkurang,’’ kata Wati.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA