Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Perajin Noken Papua Kembangkan Produk Turunan

Rabu 05 Des 2018 23:10 WIB

Rep: Melisa Riska Putri / Red: Satria K Yudha

Noken, tas dari Papua

Noken, tas dari Papua

Noken sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perajin noken di Kampung Utikini Baru, Timika, Papua akan mengembangkan produk turunan. Noken yang merupakan kerajinan rajutan asli Papua, saat ini lebih banyak dibuat dalam bentuk tas.

Yayasan Nirudaya yang fokus menggali potensi ekonomi di Papua melalui pengembangan komunitas, berupaya mengembangkan Kampung Utikini Baru sebagai Desa Noken. Ketua Yayasan Nirudaya Martin Asda mengatakan, Kampung Utikini Baru sebagai Desa Noken tidak hanya akan memproduksi noken dalam bentuk tas. 

"Tahun depan kami berencana masuk ke produk turunan dari noken yang akan disesuaikan dengan perkembangan zaman.  Kami akan membuat produk turunan dari noken seperti pakaian dan hiasan rumah," kataya melalui keterangan tertulis, Rabu (5/12).

Berbagai pelatihan dan pembinaan untuk para mama di Desa Utikini Baru sering dilakukan. Yayasan Nuridaya, kata dia, bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menjalankan tugas sosialnya, salah satunya dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). 

Bentuk kerja sama tersebut antara lain penyediaan alat pemintal benang serat kayu, bantuan pendanaan, hingga pelatihan. "Sudah ada 13 orang mama Papua yang menerima manfaat kerja sama kami," ujar dia. 

Menurut Dina Lakupais, pendamping perajin noken binaan PTF, belakangan berkembang tren pembuatan noken tak lagi menggunakan serat kayu atau akar anggrek. Penggunaan serat kayu dianggap tak lagi efisien oleh perajin noken karena waktu pengerjaan yang lama.

Melihat kondisi tersebut, diciptakanlah inovasi sederhana untuk mencari solusi pengolahan benang serat kayu guna memudahkan produksi noken. Inovasi yang dihadirkan adalah alat pemintal benang sederhana yang menggunakan dinamo seperti yang dipergunakan pada alat mesin jahit.

"Alat pemintal benang ini menjadi inovasi sederhana yang memiliki efek besar dalam proses pembuatan noken," ujar Dina.

Cara penggunaan alat pemintal benang ini diakuinya cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta proses pemintalan benang serat kayu yang lebih singkat. Dengan begitu, akan mampu memangkas waktu produksi noken.

Untuk diketahui, noken sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 4 Desember 2012. Noken yang selama ini lebih banyak berbentuk tas, memiliki peran penting di kehidupan masyarakat Papua karena manfaatnya yang multiguna, mulai dari untuk membawa hasil kebun dari desa ke kota, membawa barang-barang pribadi, membawa buku bagi siswa, hingga alat bagi orang tua untuk menggendong anaknya.

Selain manfaatnya yang beragam, noken juga berperan sentral di kehidupan masyarakat Papua karena pembuatannya yang dilakukan oleh para mama Papua. Pada komunitasnya, para mama Papua membuat sendiri noken yang akan digunakan untuk keperluan rumah tangga. 

Di kalangan perempuan Papua, noken dikenal juga sebagai simbol kedewasaan. Seorang perempuan, ia melanjutkan, belum dapat dianggap dewasa bila belum bisa merajut noken dengan baik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA