Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Bappenas Ungkap Fakta Ironi Mengenai Ekonomi Indonesia

Kamis 15 Nov 2018 06:25 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pembangunan ekonomi Indonesia

Pembangunan ekonomi Indonesia

Foto: ANTARA
Industri kelautan dan perikanan bisa menjadi tulang punggung ekonomi RI masa depan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebutkan, perekonomian Indonesia memiliki fakta ironis di usia kemerdekaan 73 tahun. Ironisnya, Indonesia merupakan negara subur dari hasil kelautan dan pertanian, tapi dua pelaku utamanya justru menghadapi kemiskinan, yakni petani dan nelayan.

Baca Juga

Bambang menjelaskan, petani dan nelayan merupakan kelompok masyarakat paling miskin menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS). "Kok di tempat yang kita paling kaya secara alami, secara natural, pelakunya adalah orang miskin, orang yang tergolong kategori paling miskin di Indonesia?" ujarnya dalam diskusi Sumbang Pemikiran Kadin dalam RPJMN 2020-2024 di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (14/11).

Untuk mengurangi kemiskinan di profesi nelayan dan petani, Bambang berharap, sektor pertanian dan kelautan dapat masuk dalam industri pengolahan makanan dan minuman (mamin). Sebab, industri ini memiliki nilai tambah, baik untuk ekspor maupun peningkatan kesejahteraan pelaku.

Bambang berharap, RPJMN 2020-2024 mampu menjadikan industri kelautan dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Tapi, tidak sekadar berbicara produktivitas, melainkan isu sosial. "Utamanya penciptaan lapangan kerja dan upaya penanggulangan kemiskinan," ujarnya.

Bambang memberikan contoh, salah satu sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan adalah kelapa. Kini, tengah berkembang olahan air kelapa di luar negeri yang berasal dari Filipina. Padahal, Indonesia mempunyai potensi besar dari segi jumlah tanaman kelapa di pesisir pantainya.

Bambang menjelaskan, pertanian dan kelautan dan perikanan masih memiliki ruang besar untuk berkembang dari segi nilai tambah dan ekspor. "Saya bayangkan Indonesia punya brand kuat untuk air kelapa dan produk kelautan perikanan," tuturnya.

Sebelumnya, tingkat kemiskinan Indonesia berhasil mencapai 9,82 persen pada Maret 2018 atau turun 0,3 persen poin dari 10,12 persen pada September 2017. Tingkat kemiskinan juga turun jika dibandingkan dengan Maret 2017 yang sebesar 10,64 persen.

Meski terjadi penurunan kemiskinan, disparitas kemiskinan perkotaan dan perdesaan masih tinggi. Tingkat kemiskinan di kota adalah 7,02 persen pada Maret 2018.  Sementara, di desa adalah 13,2 persen pada Maret 2018. Sejumlah faktor mempengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia sejak September 2017 hingga Maret 2018.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA