Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Pasar UKM Bali Bakal Tembus Uzbekistan

Rabu 24 Okt 2018 14:39 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Esthi Maharani

Sajian kopi dan deretan minuman lainnya di Bali Pulina

Sajian kopi dan deretan minuman lainnya di Bali Pulina

Foto: dok: jelajah gizi 2015
Uzbekistan juga tak menutup peluang kemitraan dengan Bali di sektor lain.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Perkembangan jumlah pelaku usaha kecil mikro (UKM) di Bali sangat pesat, mencapai 313.967 UKM tahun ini. Pemerintah Provinsi Bali mencari peluang pasar-pasar baru untuk mengekspor hasil UKM lokal, tak terkecuali ke Uzbekistan.

"Ada banyak produk UKM Bali populer diekspor, seperti ukiran, songket, anyaman, tenun, buah, seperti salak bali, jeruk kintamani, hingga cokelat dan kopi luwak dari Bali," kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, I Gede Indra Dewa Putra, Rabu (24/10).

Pemerintah Provinsi Bali telah menggelar pertemuan dengan perwakilan Uzbekistan terkait rencana kerja sama UKM ke depan. Dewa Putra mengatakan pihaknya menawarkan sejumlah produk yang potensial untuk dipasarkan di negara Asia Tengah tersebut.

Pimpinan rombongan pemerintah Uzbekistan, Islanova Nargiza mengatakan pihaknya sudah berkunjung langsung ke pabrik anggur Sababay di Gianyar, serta sentra kopi luwak di Bali. Ia pun berminat untuk menindaklanjuti kunjungan tersebut dengan kerja sama lebih konkret.

"Ke depan kami juga berharap ada pertukaran UKM di Bali dan Uzbekistan untuk memperkuat hubungan ini," katanya.

Uzbekistan memiliki program televisi khusus tentang UKM dan berminat untuk membuat acara yang mengupas tentang UKM di Bali. Nargiza mengatakan selain kerja sama UKM, Uzbekistan juga tak menutup peluang kemitraan dengan Bali di sektor lain.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Uzbekistan pernah menjadi mitra dagang kedua terbesar Indonesia di Kawasan Asia Tengah setelah Kazakhstan. Negara ini menjadi salah satu pasar negara berkembang yang strategis bagi Indonesia.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Uzbekistan adalah komponen mesin pendingin, shortening atau lemak padat untuk adonan roti, non-woven textiles, teh hitam, sabun mandi, pakaian wanita, un-bleached woven fabrics, dan ikan tuna kalengan.

Total nilai perdagangan Indonesia dengan Uzbekistan sepanjang 2017 mencapai 20,286 juta dolar AS, sementara Januari-Agustus 2018 sudah mencapai 42,241 juta dolar AS atau meningkat 108,23 persen. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut sepanjang 2017 mencapai 2,483 juta dolar AS, dan sudah mencapai 3,471 juta dolar AS delapan bulan pertama tahun ini atau naik 39,81 persen.

Dua pelaku UKM Bali telah dipertemukan langsung dengan perwakilan rombongan Uzbekistan. Mereka adalah pelaku produk spa dan kosmetik Bali Tangi, serta kain tenun ikat atau endek Bali dari Jegeg Tri Busana.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA