Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Pos Indonesia Dukung Penghilangan Pajak KA Logistik

Ahad 07 Oct 2018 16:44 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda

Pekerja melintas di depan kantor pelayanan pengiriman logistik di kawasan Kereta Api Logistik, Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara, Kamis (22/1). (Antara/Zabur Karuru)

Pekerja melintas di depan kantor pelayanan pengiriman logistik di kawasan Kereta Api Logistik, Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara, Kamis (22/1). (Antara/Zabur Karuru)

Kereta api diharapkan nanti menjadi tulang panggung angkutan darat logistik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pos Indonesia (Persero) mengungkapkan sangat pendukung usulan penghilangan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen jika menggunakan kereta api (KA) logistik. Direktur Kurir dan Logistik Pos Indonesia Barkah Hadi Mulyono mengatakan hal tersebut dapat menjadi insentif yang berdampak positif bagi pengiriman logistik. 

Barkah mengatakan kebijakan tersebut nantinya dapat mengurangi kelebihan muatan dan dimesi pada angkutan logistik di jalan raya yang menggunakan truk. "Insentif 10 persen kami kira menjadi salah satu yang memang harus dilakukan untuk mengurangi beban angkutan jalan raya," kata Barkah kepada Republika.co.id, Ahad (7/10). 

Selama ini, kata dia, Pos Indonesia menggukan kereta api logistik untuk mengangkut semua barang logistik yang perlu dikirim ke berbagai daerah. Barkah menegaskan Pos Indonesia lebih memilih untuk mengoptimalkan angkutan logistik menggunakan kereta api agar tidak menambah beban di jalan raya yang sudah mulai padat. 

Untuk itu, Barkah menegaskan PT Pos Indonesia akan mendukung langkah pemerintah yang mengintegrasikan pembatasan kelebihan muatan dan dimensi angkutan barang dengan beralih ke kereta api. "Angkutan kereta api jelas lebih menjamin dari sisi ketepatan waktu dan lebih aman," tutur Barkah. 

Dengan begitu, Barkah menilai diharapkan nantinya kereta api menjadi tulang panggung angkutan darat logistik. Hanya saja, untuk membuat semua beralih ke kereta api menurut Barkah masih membutuhkan waktu dan kelengkapan sarana prasarana dari kereta api logistik lebih memadai. 

PT Kereta Api Logistik juga masih perlu melakukan perbaikan lagi untuk mendukung beralihnya angkutan barang menggunakan kereta api. "PT Kereta Api Indonesia atau PT Kereta Api Logistik harus menambah fasilitas up loading dan loading untuk percepatan waktu," ujar Barkah. 

Terlebih saat ini, PT Kereta Api Logistik (Kalog) sudah melayani berbagai sektor dalam angkutan barang. VP Non Container Kalog Edi Sudiarto saat ini sudah melayani empat lini bisnis yanh terbesar dari korporasi, semen, air minum dalam kemasan (AMDK), plastik, baja, dan lainnya hingga yang sifatnya kontainer. 

"Itu bisa korporasi bisa juga retail. Kalo kita kan bisa angkut 11 ribu TEUs per bulan, itu untuk uang kontainer. Kalau yang curah itu seperti semen sekitar 130 ribu ton perbulan," jelas Edi. 

Dalam lima tahun terakhir, kenaikan porsi angkutan diperkirakan mencapai 11 persen dari jumlah angkut 11 ribu  TEUs dam 130 ribu ton perbulan. Edi memperkirakan tahun depan ada kemungkinan kenaikan 10 persen karena Kalog akan mengoptimalkan mengoptimalkan angkutan balik tidak hanya saat berangkat.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) Edi Sukmoro mematikan akan mengembangkan handling bongkar muat untuk kereta api logistik. Edi Sukmoro menilai sistem electronic cargo juga membutuhkan investasi dan siap untuk mengembangkan kesiapan kereta api logistik. 

"Kami mengharapkan pemilik barang akan melirik KAI. Ini harapannya bisa memacu angkutan barang kita. Kami harapkan utamanya nanti berangkat dan pulang kereta terisi terlebih dengan berlakunya pembatasan kendaraan kelebihan muatan dan dimensi," ungkap Edi Sukmoro. 

Baca juga, Penghapusan PPN 10 Persen untuk KA Logistik Belum Cukup

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA