Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Menteri Perdagangan Kaget Harga Kedelai Naik karena Rupiah

Kamis 06 Sep 2018 14:11 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor / Red: Nur Aini

Seorang pedagang, Becky (30 tahun) di Pasar Tebet Barat, Kamis (6/9) tengah mengiris tempe untuk dibungkus dengan daun pisang. Harga tempe dan tahu belum mengalami kenaikan meski rupiah terus melemah dan memicu kenaikan harga kedelai impor. Pedagang memilih untuk mengecilkan ukuran agar keuntungan yang diperoleh tetap sama.

Seorang pedagang, Becky (30 tahun) di Pasar Tebet Barat, Kamis (6/9) tengah mengiris tempe untuk dibungkus dengan daun pisang. Harga tempe dan tahu belum mengalami kenaikan meski rupiah terus melemah dan memicu kenaikan harga kedelai impor. Pedagang memilih untuk mengecilkan ukuran agar keuntungan yang diperoleh tetap sama.

Foto: Dedy Darmawan Nasution
Pedagang tahu dan tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan memeriksa harga jual kedelai di pasar. Hal itu lantaran terdapat keluhan dari pedagang tahu dan tempe terkait kenaikan harga kedelai imbas pelemahan rupiah.

"Saya belum ter-update apakah benar kenaikan seperti itu, Saya akan telpon mereka, naikkan berapa, dan apa dasarnya. Saya akan cek," kata Enggar di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Kamis (6/9).

Enggar mengaku cukup terkejut dengan adanya keluhan pedagang tahu dan tempe. Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak minim pada harga kedelai. Hal itu karena pangsa pasar ekspor kedelai AS terbatas sejak adanya perang dagang. "Para distributor, para importir, kemudian penjual kedelainya itu mereka sudah berjanji untuk tidak seenaknya menaikkan dengan pendekatan nilai kurs. Karena dia tahu marketnya adalah pedagang tahu tempe," kata Enggar.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada para perajin tahu dan tempe di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Hal itu karena, harga kedelai yang dibeli perajin mulai mengalami kenaikan harga akibat pelemahan nilai mata uang rupiah. "Akibat dolar naik maka otomatis harga kacang kedelai naik," ujar salah seorang perajin tahu di Kelurahan/Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi Samsizar (53), Kamis (6/9).

Kenaikan harga kedelai tersebut berdampak pada biaya produksi yang meningkat dan menyebabkan keuntungan berkurang. Menurut Samsizar, kenaikan harga kedelai karena pasokannya sebagian besar dari impor. Pada tiga hari yang lalu harga kedelai yang dibelinya mencapai Rp 7.600 per kilogram. Beberapa waktu sebelumnya harga kedelai hanya Rp 7.400 per kilogram. "Saat ini kemungkinan harga kedelai makin naik karena dolar AS menembus Rp 15.000," kata Samsizar.

Di sisi lain, ungkap Samsizar, dengan harga dolar AS naik maka daya beli masyarakat akan melemah dan mengurangi pembelian tahu. Hal itu akan berdampak pada berkurangnya produksi dan omzet penjualan. Sehingga, kata Samsizar, saat ini biaya produksi meningkat sementara penjualan menurun. Oleh karena itu, perajin tahu menyiasati kenaikan kedelai dengan memperkecil ukuran dan mengurangi produksi.

Awalnya, kata Samsizar, dalam sehari ia mengolah sebanyak 4 kuintal kedelai menjadi tahu. Sementara saat ini bahan baku kedelai yang diolahnya turun menjadi dua kuintal. "Kami berharap pemerintah segera mungkin swasembada kedelai tidak hanya mengandalkan impor," ujar Samsizar. Sebab jika impor maka harga kedelai akan tetap bergantung pada nilai kurs dolar AS.

Samsizar juga berharap adanya upaya pemerintah untuk menekan lonjakan harga kedelai. Salah satu caranya bisa dengan memberikan subsidi terhadap komoditas kedelai sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES